Memperingati hari ulang tahun yang ke-39, Himpunan Ratna Busana (HRB) pada Jumat, 16 Desember 2011 silam menyelenggarakan acara bertajuk Memperkenalkan Budaya dan Busana Nusa Tenggara Timur. Kegiatan yang diadakan di rumah Ketua HRB, Ibu Ratna Maida Ning, di Jl. Cikini Raya 24 ini, dihadiri oleh ibu-ibu pecinta wastra nusantara. Acara yang dimulai pada pukul 10.30 ini, diisi dengan sesi pameran dan penjelasan mengenai beragam kain Nusa Tenggara Timur (NTT).
Diantaranya seperti hinggi (kain panjang untuk pria) dan lau (sarung perempuan). Konon, kain yang berasal dari Sumba Timur, pulau paling Selatan di kawasan NTT ini, sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan saat masa penjajahan, hinggi kerap dijadikan ‘buah tangan’ untuk diboyong ke negeri Belanda.
Tak pelak kalau barang seni tersebut, kini menghiasi banyak museum di luar negeri. Bagi orang Sumba, hinggi bukan sekedar kain yang dibuat sebagai busana saja, lebih dari itu, mempunyai makna filosofis dan memiliki peran yang besar dalam kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Selain penjelasan yang cukup detil mengenai kain budaya tersebut, pada kesempatan itu diadakan pula sesi peragaan busana pengantin Alor, dan peragaan pemakaian kain NTT untuk berbagai kesempatan, serta pemilihan Best dress.
Teks Teddy Sutiady Photo Teddy
|
|