Ketika Sang Anak Beranjak Dewasa
Pada pernikahan Palembang, aneka kue khas Palembang selalu hadir menjadi pelengkap. Misalnya saat acara Mutuske Kato yaitu saat kedua pihak keluarga membuat keputusan dalam hal yang berkaitan dengan Hari Ngantarke Belanjo, Hari Pernikahan, saat Munggah, Nyemputi dan Nganter Penganten, Ngalie Turon (Munggah 2 kali di tempat laki-laki & perempuan), Becacap atau Mandi Simburan dan Beratib.
Di hari ini, rombongan keluarga pria mendatangi kediaman pihak wanita dimana pada saat itu pihak pria membawa 7 tenong (Sangkek susun 3) yang antara lain berisi gula pasir, terigu, telur itik, pisang dan buah-buahan. Menjelang pulang, 7 tenong pihak pria ditukar oleh pihak wanita dengan isian jajanan khas Palembang untuk dibawa pulang. Aneka kue atau jajanan khas Palembang di antaranya adalah Srikayo, Engkak Ketan Maksubah, Bolu Delapan Jam, Bolu Kojo, Krupuk Besak dan makanan lainnya seperti Tekwan dan Mpek-empek.
Demikian juga pada saat Munggah, sebuah prosesi yang merupakan puncak rangkaian acara perkawinan adat Palembang. Saat Munggah, terdapat acara Cacap-cacapan dan Suap-suapan. Nasi Kuning Kunyit Ayam merupakan makanan yang wajib ada dalam acara ini. Saat acara Suap-suapan, kedua pengantin, melakukan suapan Nasi Kunyit Panggang Ayam yang dibuat mirip seperti tumpeng. Menurut Watie Iskandar dari Watie Iskandar Wedding Organizer & Decoration, Makna dari acara ini menandakan bahwa sang anak yang menjadi pengantin dianggap sudah dewasa. Acara suap-suapan ini menjadi simbol bahwa tugas orangtua untuk memberi nafkah sudah berakhir.
Untuk acara Cacap-cacapan, ritual ini dilakukan hampir sama seperti Suap-suapan. Tetapi untuk Cacap-cacapan ini berupa air bunga yang di usapkan ke dahi dan ubun-ubun pengantin pria dan pengantin wanita. Setelah acara ini biasanya di lakukan acara perjamuan dengan susunan makanan panjang di mana di tengahnya ada Kemplang Tunjung, Srikayo, Bolu Kojo, Tekwan, Srikayo dan berbagai makanan lainnya.
Teks: Ratri Suyani
|