Sebuah Pengharapan dan Berkah
Sajen dalam upacara pernikahan adat Jawa dahulu merupakan sajian yang dipersembahan untuk arwah nenek moyang dan dewa. Tujuannya agar calon pengantin mendapatkan berkah dari roh para leluhur dan dewa supaya acara berjalan lancar dan diberi keselamatan hingga seluruh upacara selesai. Namun seiring dengan perkembangan zaman, sajen kini hanya sekadar hiasan dan perlambang untuk menyemarakan suasana dan ruangan pesta pernikahan serta sebagai suguhan bagi para keluarga, kerabat dan undangan yang datang.

Pada pernikahan pengantin Yogyakarta, hampir sama dengan prosesi pernikahan adat Jawa lainnya yaitu menggunakan beberapa macam sajen yang berisi ragam makanan khusus yang disiapkan calon pengantin. Misalnya seperti Sajen Tarub, Sajen Siraman, Sajen Ngerik, dan Sajen Midodareni. Dari seluruh sajen yang tersedia, hampir sebagian besar menggunakan jajanan pasar khas Jawa. Yang tak boleh dilupakan adalah tumpeng robyong, tumpeng gundhul, tumpeng megono, dan ragam buah-buahan.
Yang menarik, biasanya saat upacara siraman, selalu disediakan es dhawet. Namun, jika pada tata cara pernikahan adat Solo, es dhawet ditempatkan di dalam wadah kendil dan dijjual kepada para tamu yang datang saat upacara siraman dengan menggunakan tanah liat atau pecahan genting, maka pada tata cara pernikahan Yogyakarta, es dhawet sudah ditempatkan di gelas-gelas. Es dhawet menjadi perlambang sebuah harapan agar rumah tangga calon pengantin selalu harmonis dan langgeng.
Khusus untuk Sajen Ngerik, sajen yang dipergunakan tidak jauh berbeda dengan sajen siraman. Karena itu, setelah upacara siraman selesai, sajen dapat segera diambil dan dipindahkan ke kamar pengantin.
Teks: Ratri Suyani
Sumber: Kasatrian Ageng Selikuran & Kasatrian Ageng oleh Hj. Tienuk Riefky
Foto: Seno – Photomotion
Katering & Lokasi: Balai Sarwono - Joglo@Kemang |