Songket Toba Inovasi Cantik Kain Ulos

Salah satu kain tradisional yang banyak dikenal orang adalah Ulos, kain tradisional masyarakat Batak atau Sumatera Utara. Kehadirannya di upacara-upacara adat Sumatera Utara yang membuat kain ini cukup dikenal. Namun tak banyak orang yang memperhatikan bahwa kain tradisional ini jarang bahkan hampir tidak pernah dikenakan oleh masyarakat Batak itu sendiri, terutama yang tinggal di kota-kota besar, untuk menghadiri berbagai perayaan seperti pesta pernikahan. Ketika menikah atau harus menghadiri pesta pernikahan, yang mereka kenakan justru songket Palembang. Mengapa mengenakan kain tradisional daerah lain dan bukan kain sendiri? Jawaban mereka adalah, Ulos terlihat kurang cantik, seandainya Sumatera Utara memiliki kain yang cantik seperti songket Palembang, pasti akan kami kenakan ke pesta-pesta.

Hal ini menggerakkan beberapa orang yang peduli untuk membangkitkan kecintaan masyarakat terhadap Ulos, seperti dilakukan Merdi Sihombing, salah satu perancang busana berdarah Sumatera Utara, atau Martha Sirait yang lebih dikenal dengan Martha Ulos, salah satu pelestari budaya Batak. Juga Valentino Napitupulu, perancang busana yang juga berdarah Batak. Mendengar alasan mengapa songket Palembang lebih dipilih dibanding Ulos, Valen pun tergerak untuk membuat kain yang cantik, yang dapat menarik tante-tantenya untuk mengenakannya, namun memiliki ciri khas Sumatera Utara.

Maka ia mulai mempelajari songket Palembang, benang yang digunakan, serta proses pewarnaannya. Lalu ia membuat pola songket menggunakan motif Ulos dengan membuat tumpal serta motif kecil-kecil di beberapa sisi. Selanjutnya ia mendatangi para perajin Ulos di beberapa daerah di Sumatera Utara, membujuk mereka agar mau mengerjakan songket. Ia bawakan benang emas dan silver yang biasa digunakan untuk membuat songket, serta motif dan pola yang ia inginkan. Sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Para perajin yang sudah terbiasa menggunakan benang katun yang cenderung lebih kasar, tak mau mengerjakan benang emas atau silver yang menurut mereka licin, sehingga lebih sulit mengerjakannya.

Namun Valen tak menyerah, ia dekati angkatan yang lebih muda, para perajin yang umumnya ibu-ibu muda, bicara baik-baik, membuka pikiran mereka, hingga akhirnya mereka mau mengerjakan. Bahkan sekarang sudah ada beberapa penenun yang mengerjakan songket Batak ini, tersebar di tiga daerah, yaitu Porsea, yang berjarak 5 jam perjalanan dari Medan ke arah Toba, di daerah Meat, juga di Tarutung. Bahkan beberapa dari mereka sudah ada yang bisa mencari benang sendiri, meski sebagian masih tetap dikirimi.

Dan setelah perjuangan panjang sejak tahun 2003, meskipun belum banyak dikenal, namun kini songket Batak mulai dikenakan di pesta pesta pernikahan, baik oleh si pengantin sendiri maupun para tamu yang hadir. Terutama di kalangan masyarakat Batak Toba. Kepada mereka diberikan pengertian bahwa dengan mengenakan songket tersebut, bukan saja membantu melestarikan budaya Batak sendiri, namun juga membantuk para perajin di daerah asalnya untuk mendapatkan tingkat kehidupan yang lebih baik.

Usaha lain yang juga dilakukan oleh Valentino Napitupulu dalam memperkenalkan songket Batak atau songket Toba ini adalah dengan memadukannya dengan kebaya, di setiap peragaan busana, baik yang ia gelar sendiri atau tergabung dengan perancang busana lain.

Teks : Setia Bekti

Foto : Vaesy

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP

Klik "Ya" Untuk Mendapatkan Update Promo Terbaru Dari Weddingku!