About

Lahir dan besar di Pemangkat, Kalimantan Barat, Hian Tjen memutuskan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya di ESMOD Jakarta pada tahun 2002. Setelah menyelesaikan pendidikannya di tahun 2003, Hian Tjen memulai karirnya dan kemudian pada tahun 2008 memutuskan untuk menggunakan namanya sebagai merek atas desain-desain terbaiknya.

Ia kemudian meluncurkan HIAN TJEN sebagai nama merek mewah Indonesia untuk fesyen desain dan merek gaun pengantin kelas atas. Brand atau merek ini tercipta dan terinspirasi dari feminitas yang elegan dengan sentuhan estetika yang klasik, abadi, dan halus, didesain untuk wanita independen dan modern. Fokus pada keahliannya, Hian Tjen memiliki mata yang terlatih untuk kualitas, detil dan terdedikasi untuk menciptakan karya yang sempurna dan visioner – dengan koleksi yang dirancang dan diproduksi secara lokal di dalam studionya sendiri di Jakarta.

Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, Hian Tjen secara berkala menampilkan peragaan busana solonya yang besar, seperti: "Chateau Fleur" di tahun 2015, "Magellani" pada tahun 2017, dan "The Yine Girl" sebagai bagian dari Pekan Mode-Benz Kuala Lumpur di bulan April 2019 yang lalu.

Perfection

Gaya hidup masyarakat Amish diatur oleh ‘Ordnung’ atau sebuah tatanan. Tatanan ini berbeda dari satu komunitas ke komunitas lainnya, di dalam komunitas itu sendiri, dan dari distrik ke distrik lainnya. Apa yang dapat diterima di satu komunitas mungkin tidak diterima di komunitas lainnya. Ordnung atau tatanan ini disetujui atau dapat diubah dalam seluruh komunitas anggota yang telah dibaptis sebelum Komuni yang berlangung dua kali dalam setahun. Orang-orang Amish dikenal dengan pakaiannya yang sederhana.

Para wanitanya mengikuti petunjuk cara berpakaian yang telah diatur lewat Ordnung atau Tatanan, versi hukum dari orang Amish. Mereka harus mengenakan gaun sebetis, dengan warna kelam bersama dengan topi dan celemeknya.

Topi atau tudung kepala dikenakan oleh para wanita karena mereka adalah representasi visual dari keyakinan agama mereka serta dengan serentak mempromosikan tradisi dari setiap wanita yang mengenakannya.

Warna dari tudung kepala yang mereka kenakan menentukan apakah wanita tersebut belum menikah, yang mana mereka mengenakan tudung berwarna hitam, atau telah menikah, dan mengenakan tudung berwarna putih.

Istimewanya, semua pakaian mereka dijahit dengan tangan namun cara mereka mengencangkan pakaian sangat tergantung dari apakah mereka menjadi bagian dari komunitas Amish yang menganut Tatanan Baru atau Tatanan Lama.

Pada kesempatan yang sangat istimewa ini, melalui pagelaran busana tunggalnya, koleksi Hian Tjen Couture 2019-2020 akan menampilkan kembali tema historic dari tahun 1860an, dengan tampilan kerah putih tinggi, korset, doublets, lengan balon, jubah klerik, yang banyak terinspirasi dari kelompok wanita Amish dengan campuran dari sentuhan gaya periode Elizabethan.

Di jaman modern ini, fenimisme menjadi sangat penting mengingat pada tahun 1800an, wanita disamakan dengan budak. Dan, untuk merayakan kebebasan di era feminisme dewasa ini, Hian Tjen mengenang kembali karakteristik unik para wanita dari komunitas Amish yang dituangkan ke dalam koleksi 50 tampilan dengan detil ilustrasi yang terdiri dari kisah-kisah di belakang komunitas masyarakat Amish. Semuanya itu memodernisasi sentuhan klasik dengan menggunakan renda kod, kain jouy klasik, sulaman, serta jahitan silang.

Gallery

@hiantjen