Category
  • News & Event
  • Profile
  • Real Couples
  • Serba-Serbi
Sort by
  • Publish Date
  • Most Viewed
  • Most Rated
  • Most Commented

Search By: Category | Title
» » » dekorasi kamar pengantin, dari adat ke adat

SERBA-SERBI

Dekorasi Kamar Pengantin, Dari Adat Ke Adat

By Fitri Harini posted on Oct 02, 2011
Dekorasi kamar pengantin, tak hanya sekadar memasang seprai dan bed cover terbaik ditambah rangkaian bunga di berbagai sudut ruangan yang nantinya dijadikan kamar tidur bagi pengantin yang baru menikah. Beberapa adat tradisi menganggap menghias kamar pengantin ini adalah salah satu prosesi yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan sebelum pernikahan berlangsung. Mengapa? Karena ruangan kamar pengantin adalah ruangan pertama yang akan ditempati kedua mempelai setelah pesta pernikahan terlaksana dan kesakralan hubungan suami istri terjadi di sini. Doa dan harapan tertabur di sini.

Bagi calon pengantin, selain bulan madu, kamar pengantin juga merupakan hal yang harus diperhatikan sebagai tujuan berteduh setelah pesta usai. Kedua mempelai tidak mungkin langsung menuju tempat bulan madu di penghujung malam setelah pesta. Keduanya pasti akan singgah satu atau dua malam melepaskan lelah sejenak baru menuju tempat bulan madu dan mereka akan menempati kamar pengantin ini.

Persiapan mendekorasi kamar pengantin disesuaikan dengan keputusan kedua mempelai dan keluarga besar, apakah ingin mengikuti pakem adat atau dipermudah dengan gaya modern yang serba minimalis. Sebelum menentukan keputusan tersebut, ada baiknya membaca bagian di bawah ini. 


Berbagai Tradisi Mendekorasi Kamar Pengantin

Tradisi mendekorasi kamar pengantin sebagian masih dipegang teguh oleh keturunan masyarakat Cina yang diberi nama ritual An Chuang. Namun seiring perjalanan waktu, beberapa hal penting saja yang dipertahankan untuk mempermudah kedua mempelai.

Dekorasi kamar pengantin yang sesuai pakem tradisi Cina, diawali dengan mencari tanggal baik untuk meletakkan tempat tidur pengantin ke posisi yang tepat. Pada saat ini, biasanya orang-orang yang memiliki keberuntungan yang baik, baik dari segi keuangan dan kesehatan, akan membantu menata atau menempatkan tempat tidur pengantin. Setelah itu tempat tidur akan dibiarkan tidak tersentuh hingga hari pernikahan. Prosedur ini seringkali dan biasanya dilakukan beberapa minggu sebelum hari pernikahan yang sesungguhnya.

Setelah tempat tidur dipindahkan ke tempat yang tepat, seorang anak laki-laki yang sehat (bisa juga anak kerabat) diundang untuk berbaring dan berguling-guling di atas tempat tidur sebagai simbol kesuburan dan harapan kalau pasangan ini akan memiliki anak laki-laki. Beberapa jenis kacang-kacangan dan buah-buahan ditaburkan di atas tempat tidur, seperti kacang merah, kacang hijau, buah leci, buah kurma, kacang tanah, buah jeruk dan buah-buahan lainnya. Jenis-jenis kacang dan buah ini ditentukan musim yang berlangsung dan daerah serta kelompok masyarakatnya.

Perbedaannya dengan yang sering dilaksanakan sekarang ini adalah waktu pelaksanaannya. Prosedur ini terkadang baru dilaksanakan pada malam sebelum hari pernikahan atau beberapa hari sebelum pernikahan dan bahkan di hari yang saat pada saat dilaksanakan ritual Guo Da Li, yaitu ritual pengiriman hadiah-hadiah formal. Tidak ada waktu yang spesifik untuk melakukan ritual dekorasi kamar pengantin.

Idealnya, tempat tidur pengantin adalah tempat tidur baru. Namun karena banyak pasangan yang belum mampu membeli tempat tidur baru berukuran King atau Queen, tempat tidur lama pun boleh dipergunakan. Hanya saja, untuk mempercantiknya digunakanlah seprei dan perlengkapan lainnya yang baru dan ditambah hiasan bunga untuk mempercantiknya. Hindari penggunaan 2 buah tempat tidur single yang dijadikan satu dan usahakan tempat tidur yang lama digeser, meskipun sedikit, ke posisi yang tepat lainnya.



Beda Adat Cina Beda Pula Adat Jawa

Adat tradisi lain yang memiliki prosesi dekorasi kamar pengantin adalah adat Jawa.  Kamar pengantin hendaknya sudah dihias menjelang pelaksanaan upacara midodareni. Calon pengantin akan dipingit di dalam kamar ini  ditemani orang tua dan pinisepuh untuk diberikan nasehat-nasehat penting dalam berumah tangga.

Untuk prosesi ini, kamar pengantin seharusnya kamar pengantin akan dihias dengan sajen, berupa:
-    Ukub, wewangian ramuan dari irisan daun pandan, parutan kencur, lengkuas, jeruk purut, serai dan bunga mawar yang diperciki minyak wangi. Ukub ini diletakan di atas baki dan diletakkan di bawah tempat tidur sebagai pengharum.
-    Satu sisir pisang raja
-    Bunga sritaman atau bunga-bunga tabur yang terkenal keharumannya, seperti bunga kenanga, mawar, meati dan bunga kanthil.
-    Satu tangkep (tangkup) gula kelapa
-    Jadah bakar, roti tawar
-    Cerutu dan penghisap tiruan terbuat dari tangkai daun papaya muda
-    Suruh ayu yang dihias dengan kapur sirih
-    Rangkaian bunga buah pinang muda (mayang jambe) untuk menambah asri dan anggun kamar pengantin
-    Tujuh macam kain motif letrek sebagai pajangan atau hiasan.

 Sajen ini harus disiapkan di dalam kamar pengantin bersamaan dengan masuknya kembar mayang pada pukul 18.00 dan tepat pada pukul 24.00 sajen ini diturunkan untuk dinikmati oleh semua anggota ekluarga termasuk calon pengantin. Pada saat upacara panggih, kembang mayang akan dibuang di perempatan (jalan simpang empat) terdekat sebagai symbol agar kedua mempelai dapat memilih jalan yang benar dan pendapatnya seiring sejalan.


Teks: Fitri Harini | Dari Berbagai Sumber | Foto: Dok. Weddingku




Share your thoughts.

Rating
|
Click To Rate

2 Comments

200
Character Left