Suasana Khidmat Akad Nikah Pernikahan Ferika dan Alvi di Eastparc Hotel Saat PPKM Berlangsung

FERIKA & ALVI - 11 JULI 2021
| 308

Di zaman era baru seperti sekarang ini dimana masa pandemi masih berlangsung, calon pengantin yang akan menikah terkadang dihadapkan oleh bermacam tantangan. Ada yang menganggap tantangan tersebut sebagai gangguan tapi ada juga yang menjadikannya sebagai warna-warni kehidupan yang satu saat bisa menjadi cerita menarik bagi anak cucu mereka kelak. Tapi yang pasti, jika pintu jodoh telah dibuka oleh Allah SWT siapa yang bisa menutupnya lagi? Cerita pernikahan Ferika dan Alvi seperti hidup yang penuh warna karena Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat menjadi tantangan hanya beberapa hari sebelum hari istimewa mereka berlangsung.

11 Juli 2021 menjadi hari yang bersejarah bagi kedua mempelai ini tapi, "saat itu kami belum bisa melangsungkan pesta pernikahan karena dalam kondisi PPKM Darurat," jelas Ferika membuka percakapan kami. Oleh karena itu Ferika dan Alvi melakukan perubahan besar dengan melaksanakan prosesi akad nikah saja. "Kami mengubah total konsep acara, jumlah tamu, lokasi, dan bujet pernikahan saat itu. Bayangkan saja pada H-4, hanya empat hari sebelum hari-H, semuanya harus berubah, tapi Alhamdulillah, kami masih diberi kesempatan untuk melaksanakan akad nikah sesuai dengan tanggal yang sudah direncanakan oleh keluarga kami berdua," tutur Ferika dengan rasa penuh syukur.

Awal Ferika dan Alvi Bertemu

Setiap janji pernikahan sepasang insan manusia dimulai dari awal pertama mereka berjumpa, melewati proses hubungan, lalu memantapkan diri ke jenjang yang lebih serius untuk bersama-sama membangun hidup berkeluarga. “Mas Alvi dan saya memiliki hobi yang sama, masing-masing dari kami punya grup dance cover. Singkat cerita, saat itu saya dengan teman satu grup sedang mengevaluasi hasil latihan, tiba-tiba dia datang bersama teman-temannya berjualan cilok untuk tugas kampus. Saya sendiri cukup terganggu dengan dia karena sifatnya yang sok kenal dengan saya dan teman-teman saya pada waktu itu yang mana saat itu kami sedang serius evaluasi. Setelah selesai evaluasi, saya memutuskan untuk langsung pulang dan ternyata dia mengikuti saya. Saat itu saya bertanya dimana dia memarkirkan motornya, ternyata dia parkir di sebelah timur gedung, padahal saya parkir di sebelah barat gedung. Saya tanya lagi alasan dia mengikuti saya, dia bilang hanya ingin mengantar saya saja. Saya tipe orang yang sangat cuek jadi saya menghiraukan dia saat itu. Setelah beberapa bulan berlalu, kami dipertemukan lagi di sebuah event perlombaan dan kebetulan grup kami sama-sama memenangkan perlombaan tersebut dengan kategori yang berbeda. Semenjak itulah kami berinteraksi lagi dan berbicara lebih santai. Berawal dari chat kemudian kami bertemu dan menjalin hubungan, sampai akhirnya kami memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius di tahun kelima kami,” cerita Ferika sambil mengilas balik masa-masa awal perkenalannya dengan Alvi.

“Mas Alvi orang yang sangat sabar dan selalu berpikiran positif, murah senyum, dan selalu mementingkan saya dibanding dirinya sendiri, dan yang penting dia selalu bersikap dewasa baik secara lisan maupun perbuatan. Itulah kenapa saya yakin untuk memilih Mas Alvi sebagai suami saya,” jelas Ferika saat ditanya apa yang membuatnya tahu kalau Mas Alvi adalah jodohnya.

Persiapan Pernikahan Ferika dan Alvi

Persiapan pernikahan Ferika dan Alvi dimulai sejak bulan Februari 2021 lalu. “Saat itu kami langsung menentukan wedding planner yang sudah berpengalaman untuk membantu persiapan pernikahan kami karena kami berdua sama-sama bekerja, jadi sedikit sulit menyamakan waktu untuk bertemu. Lalu, kamipun dibantu memilih vendor mana saja yang sesuai dengan bujet dan konsep yang akan kami usung. Sambil menunggu konfirmasi perihal vendor, kami juga mempersiapkan pemberkasan KUA.

Bulan Maret, semua vendor sudah terkonfirmasi, pemberkasan KUA pun sudah beres dan kami sudah melakukan foto pre-wedding sehingga pada bulan April kami bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang. Pada bulan Mei setelah Idul Fitri, kami pun mulai menyusun kembali hal apa saja yang masih perlu kita persiapkan. Singkat cerita, sampai pada bulan Juni pertengahan, semuanya sudah beres, dari fitting baju, tes make- up, test food, checking layout dekorasi, fiksasi semua vendor, souvenir sudah beres, daftar tamu sudah selesai, dan undangan sudah siap sebar. Sampai pada akhirnya H-17 salah satu orang tua saya terkena Covid dan PPKM darurat pun mulai berlaku. Di H-4 pun kami harus pasrah bahwa akhirnya kami hanya bisa melangsungkan prosesi akad nikah dengan jumlah tamu 30 orang dan perombakan besar dari semua rencana awal kami padahal undangan sudah selesai kami sebar. Tidak ada waktu bagi kami berdua untuk bersedih, kami pun harus segera memikirkan konsep yang lebih minimalis daripada sebelumnya tapi tidak menghilangkan konsep awal kami. Setelah itu kami pun langsung berkonsultasi dengan tim wedding planner perihal perubahan rencana tersebut dan diteruskan ke vendor-vendor lainnya. Alhamdulillah, H-3 semuanya bisa teratasi dengan baik dan H-1 kami tetap bisa melaksanakan gladi bersih. Tiba pada hari-H semuanya berjalan dengan lancar dan khidmat. Kami benar-benar sangat bersyukur,” jelas Ferika lagi. Mendengar cerita Ferika, tidak ada kata lain selain memanjatkan syukur. Walaupun mendapatkan tantangan, tapi jalannya tetap dilancarkan.

Kenapa Memilih Eastparc Hotel Sebagai Venue Pernikahan Ferika dan Alvi?

Sejak awal kami memang ingin melangsungkan acara pernikahan kami secara outdoor, tapi karena orang tua kami kurang setuju, maka kami memilih venue indoor, lebih tepatnya di Grand Ballroom, Eastparc Hotel . Awalnya semua memang berjalan sesuai dengan apa yang kami rencanakan, namun pada H-4 kami diinformasikan bahwa kami hanya dapat melangsungkan prosesi akad nikah dengan maksimal tamu sebanyak 30 orang. Kami pun memutar otak untuk mencari lokasi yang lebih sesuai dengan jumlah tamu yang hadir tapi tetap masuk dengan tema pernikahan kami. Setelah kami mendiskusikannya dengan pihak WO dan hotel, kami pun sepakat menggunakan lokasi semi outdoor di The Heritage Place di sebarang Eastparc Hotel.

Bagaimana Rasanya di Hari-H dan Cerita Unik di Hari Istimewa Ferika dan Alvi?

Alhamdulillah pada hari-H semuanya terasa melegakan, kami berdua benar-benar bisa melepaskan stress yang selama beberapa bulan ini kami rasakan. Apalagi pada saat prosesi ijab qobul berjalan lancar dan keluarga kami bisa ikut merasakan kebahagiaan yang kami berdua rasakan. Bahagia bercampur haru setelah kami berdua berhasil membuktikan bahwa kami berdua berhasil melewati semua masalah itu.

Acara yang dipersiapkan dari beberapa bulan yang lalu saja pasti ada kekurangan, apalagi acara yang hanya dipersiapkan kurang dari 3 hari. Kekurangan pada acara hari itu masih bisa tertutupi oleh rasa syukur kami karena kami masih bisa melangsungkan akad nikah dengan lancar dan khidmat.

Cerita unik saat itu adalah sesi foto dan video setelah prosesi akad nikah selesai. Cuaca hari itu sangat panas dan terik karena kami melakukan sesi foto dan video sekitar pukul 12 siang. Karena terlalu terik, cahayanya menjadi terlalu terang dan hasil foto serta videonya kurang bagus sehingga beberapa kru dari Wedday dan Alunan Wedding Planner gotong royong untuk memayungi kami dengan kain putih agar cahaya yang dihasilkan tidak terlalu silau. Sesi foto dan video tersebut berlangsung kurang lebih hampir 30 menit. Benar saja hasil fotonya benar-benar bagus dan sesuai keinginan saya. Salut dengan kerjasama tim Wedday dan Alunan demi mendapatkan hasil foto dan video yang sempurna.

Tips dari Ferika dan Alvi Untuk Para Calon Pengantin

Perlunya memperhitungkan bujet yang kalian anggarkan untuk acara pernikahan

Berawal dari bujet, kita bisa memikirkan konsep apa yang akan kita usung, apakah perlu wedding planner atau cukup wedding organizer pada hari-H saja, vendor mana saja yang akan kita gunakan, dan sebagainya. Walaupun kita sudah menganggarkan semuanya sesuai bujet, siapkan juga dana darurat jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

Membangun komunikasi yang baik antara kedua calon pengantin

Pesta pernikahan haruslah menjadi keinginan dari kedua belah pihak dan direncanakan bersama. Ketika mempersiapkan semuanya berdua, secara tidak langsung akan memperkuat hubungan keduanya. Komunikasi yang baik akan menghindarkan kita dari selisih pendapat dan pertikaian. Itulah yang saya dan suami alami selama mempersiapkan acara pernikahan kami.

Bersiap dalam kondisi yang tidak terduga

Dalam kondisi pandemi seperti ini, kondisi kesehatan tidak bisa kita prediksi. Seseorang yang tampak sehat dalam hitungan hari bisa terjangkit Covid. Seperti halnya salah satu orang tua saya yang harus isolasi mandiri karena Covid di H-17 acara pernikahan kami. Saya pun harus ikut karantina karena kontak erat dengan orang tua saya, walaupun saat itu hasil swab saya negatif. Calon suami saya saat itu harus mempersiapkan semuanya sendirian dengan penuh kekhawatiran dengan kondisi keluarga saya. Setelah karantina selama 6 hari dengan hasil swab negatif dan mendapat izin dari orang tua, saya memutuskan untuk pindah sementara waktu agar tetap bisa mempersiapkan dan melangsungkan acara pernikahan kami. Singkat cerita segala persiapan telah selesai, namun pada H-4 ada perubahan besar dalam perencanaan acara kami yang mana tadinya kami akan melangsungkan prosesi akad nikah dilajutkan dengan resepsi pernikahan, tapi harus diubah total dalam segi konsep acara, jumlah tamu, lokasi, dan bujet.

Pentingnya memilih wedding planner dan vendor yang berpengalaman

Saat itu kami berdua benar-benar dalam kondisi yang terpuruk karena mendekati hari-H, begitu banyak cobaan yang harus kami hadapi. Akan tetapi kami merasa bersyukur karena kami dibantu oleh WO dan vendor-vendor yang profesional sehingga semuanya bisa segera ter-handle dengan baik. Komunikasi yang baik dan respon yang tanggap sangat diperlukan agar perubahan rencana di era pandemi yang tidak dapat diprediksi ini bisa segera diatasi dan tetap berjalan dengan baik.

Kita yang merencanakan, Allah yang menentukan

Sebenarnya saya dan suami sebelumnya juga punya pengalaman dengan PPKM ini. Kami awalnya merencanakan prosesi lamaran pada minggu pertama bulan Januari, namun pada bulan tersebut PPKM pertama dimulai dan kami pun mengundurkan acaranya pada minggu kedua bulan Februari, itu pun tidak berjalan mulus. Waktu itu pun kami hanya mendapat izin untuk acara lamaran dilaksanakan dengan jumlah maksimal tamu 10 orang. Berkaca dari kejadian tersebut, kami juga harus bersiap dengan kemungkinan yang terjadi pada persiapan acara pernikahan kami nantinya. Dan benar saja, kami yang awalnya hampir tidak ada kendala, justru mendekati Hari-H banyak sekali masalah yang muncul satu per satu. Kami menganggap itu sebagai cobaan dari Allah SWT untuk mengetahui sejauh mana usaha kami berdua dalam mempersiapkan ini semua, sekaligus menguji pasangan kita apakah dia mau berjuang bersama atau tidak. Berusaha, beribadah, berdoa, dan berserah diri pada Allah SWT merupakan hal yang tidak boleh kita lupakan dan kita tinggalkan.

Cerita Ferika dan Alvi memang penuh warna tapi seperti apa yang Ferika tuturkan berusaha, beribadah, berdoa, dan berserah diri pada Allah SWT adalah hal yang tidak boleh kita tinggalkan saat merencanakan sesuatu yang besar dalam hidup kita.

BACK
TO TOP