Momen Pernikahan Penuh Keakraban Agung dan Nisa di Allwynn Grand Ballroom

NISA & AGUNG - 10 OKTOBER 2021
| 369

Agung dan Nisa bertemu di grup kemahasiswaan saat mereka kuliah di kampus yang sama. Agung adalah kakak kelas Nisa dan di grup itulah mereka jadi sering bertemu. Namun, seiring dengan jalannya waktu dan saat menjelang akhir kuliah, mereka sering diledek satu dengan lainnya oleh teman-teman dekat mereka. "Tapi aku denial dan ga mau!" kata Nisa sambil tertawa saat memulai pembicaraan kita. "Eh, ternyata ya, ga lama setelah lulus jadi dokter, kita malah jadian dan sampai akhirnya ke pelaminan," sambung Nisa lagi, kali ini sambil tersenyum membayangkan kenangan hubungan mereka saat akhir kuliah sampai menikah.

Banyak cerita tentang bagaimana seorang pria berjodoh dengan pasangan wanitanya. Namun, bila pintu jodoh sudah dibuka Allah SWT, siapa yang bisa menutupnya? "Terus terang, aku juga ga tahu kenapa tiba-tiba aku mau diajak menikah sama Agung karena kita pacarannya juga baru dua tahun," jelas Nisa lagi. "Agung orangnya sederhana, sabar, dan untuk mendapatkan sesuatu dia mau usaha dan komitmen," tutur Nisa. Ketika pintu jodoh sudah dibuka, Agung dan Nisa yakin dengan pilihannya masing-masing. "I`m married to my close friend!" ujar Nisa sambil tersenyum bahagia.

Nisa, boleh ceritakan sedikit tentang persiapan pesta pernikahannya?

Persiapan nikah dimulai dari bulan Februari 2021. Setelah itu mulai izin sama orangtua dan mulai mencari venue yang sesuai dengan konsep. Kita maunya as simple as it can be karena lagi masa pandemi juga. Long story short, akhirnya pilihan kita berdua jatuh di The Allwynn Grand Ballroom dan tanggal yang kita mau masih tersedia.

Saat pertengahan tahun persiapannya sudah 50% dan sudah beli bahan seragam untuk keluarga juga. Tapi ternyata Jakarta menarik rem darurat dan ada PPKM. Saat itu kita semua galau menunggu keputusan pemerintah yang tidak pasti karena resepsi dilarang selama PPKM level 4. Kita akhirnya sempat “berdiam diri” sambil memikirkan apa yang harus kita lakukan. Sempat memikirkan acara Akad Nikah yang tetap on-schedule dan acara resepsinya lalu menyusul. Tapi ternyata, Alhamdulillah, sebulan sebelum acara, PPKM diturunkan ke level 3 yang mana boleh menggelar resepsi walaupun ada pembatasan jumlah tamu persesi dan katering harus dalam bentuk hampers. Alhamdulillah, hingga hari-H berjalan dengan lancar dengan kerjasama semua vendor dan keluarga.

Bagaimana tentang pemilihan vendor-vendornya? Apakah ada yang direkomendasikan teman?

Pemilihan vendor mulai setelah deal dengan venue sekitar bulan Maret 2021. Kebetulan untuk di venue The Allwynn Grand Ballroom juga sudah menawarkan paket dan rekanan dengan berbagai vendor. Untuk vendor di luar rekanan gedung yang membutuhkan agak lama karena harus cari-cari dulu di Instagram dan aplikasi pernikahan.

Semua vendor pernikahan kita recommended dan semuanya professional sekali. Tapi yang paling berkesan buat kita adalah Buana & Co dan venue nya itu sendiri, The Allwynn Grand Ballroom. Kita memang deal dengan Buana & Co dari dokumentasi lamaran, pre-wedding, live streaming dan liputan pernikahan. Kita puas sekali dengan hasil foto-fotonya, crew-nya asik-asik, professional, dan hasilnya langsung dikirim cepat.

Kenapa Agung dan Nisa memilih The Allwynn Grand Ballroom?

Karena ada dua suasana indoor dan semi-outdoor-nya. Kami memilih tempat semi-outdoor untuk Akad Nikad dan indoor untuk acara resepsinya. Jarang-jarang ada tempat pernikahan yang bentuknya ballroom di lantai dasar karena biasanya ballroom kan adanya di dalam gedung dan di lantai atas. Dan, punya ruang semi-outdoor-nya juga. Jadi pas sekali untuk acara wedding di saat pandemi seperti ini. Dari awal pas lihat venue ini, aku sudah kepingin menikah di tempat ini, mewahnya dapat, outdoor view-nya juga dapat yang akhirnya kesampaian.

Sempat stress saat mempersiapkan pesta pernikahannya?

Kalau dibilang stress dari awal sampai H-satu bulan belum terasa sih. Terasa beratnya baru H-1 bulan karena PPKM baru mulai turun level dan semuanya serba mendadak dari pembagian baju seragam ke keluarga-keluarga sampai hal-hal kecil printilan dan teknisnya itu yang ribet. Hal yang agak meribetkan karena untuk wedding kita menggunakan sistem RSVP dari online invitation, jadi sampai H-beberapa hari kita masih sibuk untuk kirim undangan dan koordinasi dengan tamu. Hal ini cukup buat kami pusing karena jumlah tamu benar-benar harus dihitung untuk disesuaikan dengan hampers-nya. Tapi H-1 bulan sudah mulai terbantu banget karena kebetulan Wedding Organizer-ku, Pindy Organizer sudah mulai membantu koordinasi ke vendor-vendor dan keluarga.

Bagaimana rasanya di hari-H?

Saat Hari-H aku merasa excited karena yang pasti ini adalah momen once in a lifetime ya. Nervous-nya justru baru terasa pas jalan ke meja akad nikah dan yang nervous itu Agung karena dia harus membaca Ijab Qobul-nya. Perasaan sedih ada sewaktu sungkem dengan orang tua. Sempet mau menangis tapi kebetulan diingetkan oleh MUA aku agar diusahakan jangan terlalu berlebihan kalau menangis nanti makeup-nya susah untuk di-retouch. Ingat saja kalau hari ini adalah hari terbahagia buat kamu jadi ingat bahagia-bahagianya saja. Prosesinya simple seperti akad pada umumnya, tidak ada acara adatnya karena lagi pandemi jadi tidak perlu lama-lama. Setelah acara yang pasti aku senang dan lega banget akhirnya acara wedding kita terlaksana juga di tengah pandemi ini tanpa perlu reschedule apapun. Semua berjalan on-tract. Kecuali tamu tidak bisa menikmati makan di tempat dan dibagikan hampers katering. Alhamdulillah, semua sesuai apa yang kita harapkan.

Ada cerita unik saat pesta pernikahan berlangsung?

Kebetulan penghulu kita ada acara Akad Nikah juga sebelum acara kita dan jamnya mepet banget. Jadi kita semua deg-degan pas Hari-H sambil menunggu beliau datang, prosesi Akad Nikahnya ditambah-tambahkan sebelum Ijab Qobul. Untuk resepsi sesi 3 karena diperuntukan untuk teman- teman aku dan Agung, jadi kedua orang tua kita turun dari pelaminan untuk mingle bersama keluarga yang lain. Akhirnya di pelaminan ada kita berdua saja dan ujung-ujungnya juga mingle dengan teman-teman kita sambil foto-foto di photobooth, jadi wedding-nya terasa lebih intimate deh.

Tips-tips atau cerita menarik apakah yang bisa diberikan bagi calon pengantin.

Karena situasinya masih dalam keadaan pandemi yang tidak menentu seperti ini, aku sih menyarankan acaranya to make it simple dan yang terpenting harus bikin backup plans. Karena di saat pandemi ini kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Dan, saat ini adalah waktu yang pas juga untuk menggelar acara wedding yang lebih intimate. Yang pasti harus siap mental juga karena mempersiapkan acara pernikahan di masa pandemi ngurusnya bisa mendadakan.

BACK
TO TOP