Nuansa Solo Vintage Dinda & Seto Di Graha Samudera Bumimoro, Surabaya

ARIF TUNJUNGSETO & ANINDITA PRIMIARI QODRINA - 24 MEI 2015
| 170

Cinta sejati menyelinap ke dalam hati tanpa pemberitahuan. Kapan dan di mana? Itu adalah misteri yang tak seorang pun dapat meramalkannya dengan pasti. Maraton. Lomba lari jarak jauh itu tentunya mempunyai kesan tersendiri bagi Anindita Primiari Qodrina (Dinda) dan Arif Tunjungseto (Seto). Konon dari sinilah cinta mereka tumbuh hingga berujung ke pelaminan. Padahal Seto bukanlah sosok yang asing buat Dinda, begitu juga sebaliknya. “Mas Seto itu senior saya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ia juga kakak dari teman saya,” terang Dinda.

Cinta sejati menyelinap ke dalam hati tanpa pemberitahuan. Kapan dan di mana? Itu adalah misteri yang tak seorang pun dapat meramalkannya dengan pasti. Maraton. Lomba lari jarak jauh itu tentunya mempunyai kesan tersendiri bagi Anindita Primiari Qodrina (Dinda) dan Arif Tunjungseto (Seto). Konon dari sinilah cinta mereka tumbuh hingga berujung ke pelaminan. Padahal Seto bukanlah sosok yang asing buat Dinda, begitu juga sebaliknya. “Mas Seto itu senior saya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ia juga kakak dari teman saya,” terang Dinda. 

Meski kerap bertemu secara tidak sengaja, namun baru satu setengah tahun yang lalu timbul rasa suka di antara keduanya. “Dinda tidak hanya cantik, ia juga cerdas. She’s makes everything much easier,” jelas Seto. Sedangkan Dinda mengaku kagum pada Seto, lantaran sifatnya yang humoris. “Dia bisa bikin saya tertawa namun bisa juga tegas. Dan yang paling penting soleh,” urainya sembari tersenyum.

Merasa cocok satu sama lain, keduanya pun memutuskan untuk menikah.  Tanggal 22 Mei 2015 dipilih Dinda dan Seto untuk melangsungkan akad nikah di kediaman keluarga Dinda. Mereka sepakat melakukan prosesi pernikahan sesuai dengan adat Solo, Jawa Tengah. Tak pelak beberapa prosesi seperti adeg tarub, pemasangan bleketepe, pengajian, sungkeman, siraman hingga midodareni dilaksanakan sehari sebelum akad nikah di kediaman calon pengantin wanita. “Kami melangsungkan pernikahan secara adat karena setiap prosesinya memiliki filosofi, doa dan keindahan yang luar biasa,” jelas keduanya.

Selang sehari kemudian, tepatnya pada 24 Mei 2015, sebuah resepsi nan semarak pun  digelar di Graha Bumi Moro Surabaya. Dibantu oleh Budi Utomo Traditional Wedding Organizer, Dinda dan Seto menghadirkan tema Solo Vintage dalam resepsi pernikahan mereka. Uniknya mereka berdua menampilkan koleksi pribadi barang-barang tempo dulu untuk dipadukan sebagai pelengkap dekorasi pernikahan. Berupa moda transportasi yang diproduksi sekitar tahun 1940 hingga 50-an. Selain itu mereka juga memajang foto berukuran raksasa yang mengambarkan keduanya tengah melewati garis finish di lintasan lari. “Di sanalah cinta kami tumbuh.” 


BACK
TO TOP