"Damai Negeriku", Anne Avantie bercerita tentang cinta kasih akan Ibu Pertiwi
Anne Avantie, sebuah nama yang sangat fenomenal dengan rancangan karya-karya kebaya terbaiknya di Tanah Air. Tidak sedikit karyanya menjadi buah bibir, baik yang berdecak kagum bertepuk tangan sambil berdiri, maupun yang hanya bisa mengkritik bahkan mencibir. Rancangan kebayanya selalu ditunggu dan menjadi sebuah trend, malah ada sebagian lagi para plagiator yang dengan sengaja menduplikasi rancangannya. Dengan cinta kasih, seorang Anne Avantie menanggapi itu semua. Dan dengan cinta kasih itu pula, wanita yang akrab disapa Bunda ini bercerita dan mempersembahkan Pergelaran Dua Dasawarsa Anne Avantie berkarya Damai Negeriku, sebuah persembahan cinta kasih seorang Anne Avantie kepada Ibu Pertiwi.
Bertempat di Assemby, Jakarta Convention Centre, Anne Avantie memukau seluruh undangan dengan menghadirkan kembali masa demi masa yang pernah dilaluinya dari tahun 1989 hingga 2010 dan yang pernah menjadi tren di masanya. Terdiri dari beberapa sequence, pergelaran yang dikemas apik lewat arahan Ananta Kanapi ini diawali dengan tampilan beberapa kebaya berpotongan sederhana dengan siluet tempoe doeloe yang hanya mendapatkan sedikit sentuhan modifikasi sehingga tidak lagi tampil biasa. Mengingatkan pada awal tahun 1990 dimana Anne pernah melirik lurik yang pada masanya sangat populer. Di Fashion Tandance AAPMI 2007, kembali aku mengangkat lurik untuk tampil lebih bergaya dengan tema `Penari`. Aura kuno kebaya motif bunga-bunga berbahan Paris dan brokade mbok-mbok, menyusup tampil beradaptasi dengan batik dan lurik (1990).
Sequence selanjutnya aku putri Indonesia peranakan Tionghoa, Anne menghadirkan kain batik lasem, pesisiran, kebaya encim yang membangkitkan kenangan. Pasalnya, pada tahun 1993,1995, Anne pernah tampil dengan bahan organdi dan kerah ciongsam. Puteri Thionghoa menjadi inspirasinya. Pada sequence ini diperagakan oleh beberapa model yang juga keturunan Thionghoa.
Dari daratan China, Anne membawa langkah ke dunia bagian barat. Ia membuat kebaya Indonesia tampil lebih universal. Maka tahun 2007 aku membuat Bridal Ethnik. Siluet ini membawaku pada sebuah karya yang menjadi favorit bagi para pelanggan Roemah Penganten, tutur Anne. Ide mewujudkan imajinasi dan inovasi Bridal etnik diawaili dari perpaduan budaya Barat dan Timur. Sampai saat ini, kebaya Bridal Ethnik yang tampil menyerupai gaun pengantin Eropa menjadi alternatif pilihan para pengantin nasional modern. Bisa dikenakan dengan kain nasional, bisa juga tampil dengan renda-renda atau brokat dan beragam siluet dari yang pendek, panjang, hingga menjuntai. Pada sequence ini tampil beberapa pasangan artis ternama memeragakan kebaya Roemah Penganten yang disandingkan dengan beskap Brutus Rumah Mode
Pada sequence selanjutnya, pemandangan khas kota Yogyakarta memanjakan para tamu dalam pergelaran Damai Negeriku. Sederet model, aktris, dan aktor Tanah Air turut ambil bagian dalam sequence tersebut. Tahun 1997 adalah sejarah hidupku. Kebaya telah menjadi sesuatu yang bernyawa dan membawa pembaharuan bagi karyaku dan perjalanan karierku. Kebaya asimetris yang awalnya salah potong. Berleher berbeda antara kiri dan kanan tiba-tiba menjadi tren di Indonesia dan dikloning dari Sabang sampai Merauke, ungkap wanita yang memiliki hobi menulis.
Pada sequence selanjutnya Ayo ngguyu.. Ayo ngguyu. Yen ngguyulah ojo seru-seru, Pada sequence ini panggung Damai Negeriku benar-benar hidup dengan diperagakan oleh banyak bintang Indonesia, para perancang ternama seperti Ivan Gunawan, Musa tampil dengan sepeda ontelnya, Taruna tampil dengan sepeda mesin jahit kunonya, Ramli tampil duduk di dalam becak, serta beberapa stylist pengarah gaya ternama Ai Syarif, Sonny Muchlison, Izabel Jahja. Yang diiringi lantunan jenaka Ayo ngguyu oleh Yati Pesek dengan setting keramaian Pasar Klewer. Mereka berhasil membawakan koleksi ready to wear Batiken Anne Avanties Lawasan dengan penuh suka ria.
Pada sequence berikutnya, para tamu undangan juga disuguhi penampilan Vina Panduwinata yang menyanyikan lagu `Melati Suci` yang diiringi para model senior pernah berjaya di masanya. Mereka tampil dengan beragam siluet sesuai karakter pribadi masing-masing model. Salah satunya model senior Arzeti dengan cirri khasnya berputar beberapa kali di tengah panggung.
Puteri Indonesia menjadi cermin jati diri wanita Indonesia yang muncul dalam beberapa karakter pribadi. Inilah yang ditampilkan Anne di pergelaran Damai Negeriku. Kebaya kerah Kartini yang beradaptasi dengan obby Bali. Lalu kebaya kutu baru bertangan pendek, siluet kebaya leher Shanghai yang tampil cosmopolitan dengan bolero tangan menggelembung. Serta siluet kebaya bergaya dengan kreasi tanpa batas melayang meraih mimpi berjaya di bumi pertiwi. Pada sequene ini, semua karya indah Anne dibawakan apik oleh beberapa Puteri Indonesia dengan diiringi lagu Payung Fantasi..
Ekpresi kebaya dan kain tradisional Jawa untuk menari Tango juga dihadirkan Anne. Dewi Sandra lewat lagu `Sepasang Mata Bola` berhasil menghipnotis para penonton dengan sepasang penari Tango. Gairah berdansa Tango dengan kebaya berlengan asimetrsi ruffle renda, yang dipadukan dengan rok bawahan bentuk lereng kawung dengan belahan nyaris sampai pangkal paha merupakan impian Anne yang menjadi kenyataan.
Pada sequence berikutnya tampil beberapa model papan atas yang sekarang namanya sedang Berjaya, sebut saja salah satunya model Kimy. Tidak ada batasan pakem yang memagari kreatifitas kebaya seorang Anne Avantie pada sequence ini. `Jadilah dirimu sendiri nak. Karena selama ini aku tidak hanya membuat kebaya saja. Jadi jangan semua disebut kebaya` tutur Anne Avantie menjawab petanyaan model Kimy apakah rambutnya harus disanggul juga, mengingat rambut model Kimy yang sangat pendek.
Sequence berikutnya menghadirkan para bintang film lawas ternama Indonesia yang pernah Berjaya di masanya, seperti Widyawati, Marini, Lenny Marlina, Rima Melati, dengan diiringi lantunan lagu `Adinda Oh saying Adinda`dan `Sendiri.. Sendiri kini aku sendiri lagi` oleh Titik Puspa. Kemasan cantik yang mengingatkan kembali masa kejayaan mereka.
Pergelaran dua dasawarsa Anne Avante berkarya ditutup dengan tepukan riuh tamu undangan yang memenuhi Assembly, Jakarta Convention Center.`Jubah Keanggunan Dewi Sri` yang dipergakan oleh model Desy Muliasari yang telah 13 tahun menjadi icon model kebanggaan Anne Avantie, dan yang dikerjakan dari sisa-sisa kain batik dari semua koleksi yang tampil dalam pergelaran `Damai Negeriku` menjadi bukti nyata kecintaan Anne pada Ibu Pertiwi.
Teks: Enrico Joseph
Foto: Vaesy