Ini Tahapan Prosesi Menjelang Pernikahan Adat Jawa Yang Penting Diketahui

 

Pernikahan Ayu & Garry | Foto: Warna Indonesia Photography | Venue: Eastparc Hotel

Sebelum memasuki bahtera rumah tangga, pengantin yang menikah dengan menggunakan adat Jawa biasanya melakukan beberapa prosesi menjelang acara pernikahannya. Prosesi dalam pernikahan tradisional memiliki makna dan filosofi yang dalam sehingga banyak pengantin yang melangsungkan pernikahan adat juga menjalankan bermacam ritual yang ada di dalamnya. Memang biasanya prosesi ini memerlukan waktu yang cukup panjang dan kerjasama banyak orang untuk melakukan ritual yang harus dijalankan itu. Namun, di masa pandemi seperti sekarang ini, menjalankan proses ritual pernikahan adat tetap bisa dilakukan dengan melibatkan tidak banyak orang.

Ritual pernikahan tradisional sudah dilakukan turun temurun dan jika Anda serta pasangan melaksanakannya menjelang hari pernikahan nanti, Anda turut serta menjaga tradisi adat pernikahan Indonesia yang kaya akan ragam ini. Lalu apa saja prosesi menjelang pernikahan adat Jawa yang perlu Anda berdua ketahui? Berikut adalah beberapa tahapannya.

Pernikahan Seisika & Arfan | Foto: Reza Prabowo Photography | Venue: Eastparc Hotel

Bleketepe

Bleketepe adalah daun kelapa yang masih hijau dan dianyam dengan ukuran rata-rata 50cm x 200cm sebagai atap atau peneduh saat resepsi pernikahan. Biasanya bleketepe dipasang oleh orang tua calon pengantin saat pemasangan tenda pernikahan atau tarub.

Tradisi membuat bleketepe sendiri merupakan peninggalan dari Ki Ageng Tarub, salah satu leluhur raja-raja Mataram. Saat itu, anaknya Dewi Nawangsih dengan Raden Bondan Kejawan menikah dan Ki Ageng membuat peneduh dari anyaman daun kelapa. Alasan Ki Ageng melakukan hal tersebut tak lain karena rumahnya yang kecil dan tak mampu memuat semua tamu, sehingga yang di luar rumah tetap teduh dengan adanya daun kelapa tersebut.

Prosesi ini merupakan perwujudan dari penyucian di kayangan yang dinamakan Bale Katapi yang menjadi tempat pemisahan dan pembuangan. Dengan demikian, bleketepe berarti orang tua yang mengajak anaknya bersuci.

Ada juga janur kuning yang melengkung sebagai pengharapan berkah dan kemakmuran bagi kedua mempelai layaknya meminta cahaya kepada Tuhan.

Pernikahan Seisika & Arfan | Foto: Reza Prabowo Photography | Venue: Eastparc Hotel

Pasang Tuwuhan

Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan yang ditaruh di sisi kanan-kiri pintu utama yang dilalui kedua mempelai. Terdiri dari beberapa macam tumbuhan. Di antaranya dua tandan pisang raja yang sudah matang, kelapa muda, daun randu dan sebatang padi. Makna yang tersemat di dalam tawuhan, kelak pengantin akan memperoleh kemakmuran, kehormatan, serta keturunan yang berbakti.

Pernikahan Seisika & Arfan | Foto: Reza Prabowo Photography | Venue: Eastparc Hotel

Siraman

Di dalam ritual siraman akan ada tujuh orang atau angka ganjil lainnya yang akan memandikan calon mempelai. Sebelum menuju prosesi selanjutnya, sang ayahlah yang akan mengakhiri ritual ini dengan menggendong mempelai ke kamar pengantin.

Dodol Dawet

Kedua orang tua calon mempelai akan menjual dawet sebagai hidangan kepada para tamu yang hadir. Dawet tersebut tidak dibayar dengan uang melainkan dengan kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat sebagai tanda bahwa pokok kehidupan berasal dari bumi.

Potong Tumpeng

Sajian nasi berbentuk kerucut ini berisikan lauk-pauk yang ditata di sekelilingnya di atas nampan bulat yang terbuat dari anyaman bambu. Hal ini mengisyaratkan kemakmuran dan kesejahteraan. Ritual ini biasanya dilakukan oleh orang tua mempelai.

Dulang Pungkasan

Acara ini merupakan prosesi suapan terakhir oleh ayah dan ibu pada calon mempelai sebagai tanda tanggung jawab terakhir dari orang tua kepada anaknya yang akan menikah.

Tanam Rambut

Prosesi ini dapat dilaksanakan setelah utusan yang membawa rambut mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita. Rambut tengkuk yang diambil ketika upacara ngerik, usai acara siraman akan disatukan dengan rambut mempelai pria di dalam cepuk. Di tempat yang sudah ditentukan, ayah, ibu, serta saudara kandung mempelai wanita kemudian mengubur helai-helai rambut itu. Harapannya agar keburukan yang pernah terjadi pada kedua mempelai, terkubur bersama seluruh helaian rambut.

Midodareni

Prosesi ini merupakan ritual melepas masa lajang bagi calon mempelai wanita. Pada malam midodareni, pengantin wanita akan ditemani oleh pihak keluarga saja dan dilarang untuk bertemu dengan mempelai pria. Di sini mempelai wanita juga akan menerima beragam nasehat mengenai hidup pernikahan.

Tradisional, Wedding Planning, Yogyakarta, Zaman Now, Pernikahan Tradisional, Jawa, Tips dan Trik


LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP