Jalinan kasih yang terjadi sejak dua tahun lalu, membuat hati Prabowo Penangsang semakin yakin untuk melamar kekasihnya, Windy Juwita. “Kami memang mulai memikirkan pernikahan sejak dua tahun lalu,” kata Windy. Pernikahan adat Jawa menjadi pilihan keduanya karena Bondan, panggilan akrab Prabowo Penangsang, memang berdarah Jawa. “Sedangkan saya setengah Jawa, karena papa berasal dari Pontianak dan mama dari Jawa,” canda Windy.
Perburuan vendor pernikahan banyak dilakukan oleh Windy dan Bondan. Mulai dari foto pre-wedding dan Hari H, busana akad, busana resepsi, kartu undangan, suvenir, mingle, hingga dekorasi, katering dan tempat. Vendor yang pertama dituju adalah vendor foto. “Kami memang ingin buat foto pre-wedding terlebih dahulu biar tidak ribet,” papar Windy. Setelah foto pre-wedding beres, mereka mulai hunting tempat. Ia memilih ballroom PTIK yang bisa menampung 700 tamu undangan. “Tadinya mau tempat yang ada di sekitar Jalan Sudirman karena lokasinya srategis. Sayangnya, ternyata mesti pesan satu tahun sebelumnya. Untungnya, bisa dapat tempat yaitu PTIK yang ada di kawasan Blok M,” lontar Windy yang memang baru mencari tempat untuk menggelar upacara pernikahanya 6 bulan sebelum Hari H.
Khusus untuk busana resepsi, Windy dan Bondan sengaja berburu langsung ke Yogyakarta dan berhasil mendapatkan busana resepsi dengan warna sesuai tema, navy blue. “Tadinya mau pesan di salah satu vendor di Jakarta, tapi kurang cocok. Makanya kami ke Yogyakarta. Eh, selain harganya cocok, kami bisa memiliki busana pengantin tersebut,” imbuhnya. Sedangkan kebaya akad, ia memesan khusus dari Myrna Myura.
Busana resepsi (pria & wanita): Rp 3,5 juta
Kebaya akad: Rp 2,5 juta
Untuk undangan, Windy memilih By Antz karena desainnya bagus. Sedangkan untuk suvenir, Windy memilih kaleng kerupuk mini berisi permen beragam rasa yang dipesan di daerah Dewi Sartika, Jakarta Timur. “Karena tidak ada yang jual, saya pesan khusus dan hasilnya sangat memuaskan,” paparnya. Tak kalah unik adalah mingle untuk keluarga, berupa bakul mungil yang disi dengan perlengkapan sabun yang dihias sendiri oleh Windy.
Souvenir: @ Rp7.500
Mingle: @ Rp30 ribu
Akad nikah dilangsungkan pagi hari di PTIK. Usai akad nikah, mereka melakukan rangkaian prosesi adat Jawa, yaitu upacara Panggih seperti lempar sirih saat mempelai wanita bertemu dengan mempelai pria dan injak telur, dilanjutkan acara Teapai (upacara minum teh tradisi Cina). Menurut Windy, acara Teapai digelar untuk menghormati keluarga dari pihak ayah Windy. “Makanya banyak yang bilang, acara akad nikahnya unik,” senyum Windy mengomentari hal itu. Acara dilanjutkan dengan resepsi yang berlangsung pukul 11.00 WIB. Puas dan lega. “Soalnya, kami sendiri yang cari vendor dan kami juga yang menyusun acara dibantu pihak keluarga. Jadi, kami seperti wedding planner untuk pernikahan kami sendiri, he...he...he,” ucap Windy yang tampak senang prosesi pernikahannya berjalan dengan lancar.
Teks: Ratri Suyani
Foto: Kornerr Photography