Real Wedding

Semarak Perpaduan Minang-Sunda

SHINTA MICHIKO PUTERI (CHIKO) DAN FANDRIAN RHAMADIANSYAH (FANDRI) - 30 APRIL 2016
by  690Color:

Tak akan lari gunung dikejar, seperti tak akan pergi cinta di hati Chiko untuk Fandri.

Salah satu ritual adat

Kalung dan gelang bertumpuk menjadi ciri khas busana adat Koto Gadang

Chicko cantik dengan make-up minimalis dan lipstik merahnya

Senyum bahagia dan lega setelah ijab kabul

Berpose dengan gaya seperti ini agar tidak membosankan

Siger yang menjadi mahkota pengantin Sunda

Cantiknya Chicko dengan make-up dan aksesoris ala Sunda

Chiko dan Fandri

Lilin dan bunga menjadi detil pemanis

Penari yang menabuh gendang

Kompak bermain angklung

Father-daughter last dance yang penuh haru

Kebahagiaan Chiko dan Fandri di tengah para sahabat

Menuntut ilmu di universitas yang sama, lalu tergabung dalam panitia penerimaan mahasiswa baru, dan sama-sama ‘jomblo’, memancing teman-teman untuk menjodohkan Chiko dan Fandri. Namun, respon Fandri yang terkesan datar membuat Chiko beralih dan menjalin hubungan dengan pria lain. Sayang hubungan itu tak berjalan mulus dan harus putus di tengah jalan. Tak banyak yang mengetahui berakhirnya hubungan ini, karenanya Chiko cukup terkejut ketika Fandri tiba-tiba kembali mendekati Chiko.

Setahun berlalu setelah hubungan mereka terjalin, Chiko mengetes keseriusan Fandri. Pertengkaran hebat pun sempat terjadi lantaran Fandri yang saat itu belum terpikir untuk berumah tangga. Namun kejutan romantis Fandri yang membawakan begitu banyak balon putih disertai janji untuk menikahi Chiko di usia 25 tahun, berhasil meredakan amarah di hati Chiko. Sebuah janji yang terwujud setelah keduanya lulus kuliah dan bekerja.

Pernikahan impian itupun terwujud pada April 2016. Akad nikah yang begitu syahdu dalam naungan adat Koto Gadang, diawali dengan penjemputan Fandri di kediamannya oleh rombongan keluarga Chiko. Sebuah prosesi yang dinamakan manjapuik marapulai. Berbalut busana pengantin Kota Gadang berwarna merah dan ungu, seperti yang dikenakan ayah dan ibu Fandri sewaktu menikah, Chiko dan Fandri melangsungkan akad nikah. Seusai pengucapan ijab Kabul, kerudung yang dikenakan oleh Chiko diganti dengan tengkuluk talakuang, kerudung cantik khas pengantin Koto Gadang yang memang baru boleh dikenakan setelah akad nikah.

Pasangan pengantin Koto Gadang itupun bersalin rupa menjadi pengantin Sunda saat resepsi. Tanpa prosesi atau tarian pembuka, Chiko memenuhi permintaan sang ayah yang tak ingin tamu lama menunggu beragam prosesi untuk dapat bersalaman dengan pengantin. Sehingga setiap tamu yang datang dapat langsung memberikan restu kepada kedua pengantin dan menikmati hidangan yang tersedia. Namun untuk memberi kesan tersendiri, Chiko sengaja memberikan kejutan dengan menyelipkan acara father-daughter last dance dengan lagu “I Loved Her First”.

Go to top