Amy Atmanto, Sentuhan Cinta Pada Kebaya

Kebaya. Begitu banyak pendapat yang memaparkan mengenai busana tradisional yang diperuntukan bagi kaum hawa ini. Ada yang mengatakan bahwa kebaya berasal dari Timur Tengah. Itu jika ditilik secara etimologi, disiplin ilmu yang mempelajari asal sebuah kata, konon kebaya berasal dari kata ‘abaya’ yang memuat arti pakaian. Namun ada pula yang mengatakan kalau kebaya memang lahir di Indonesia, di ranah Jawa. Yang kemudian berkembang ke daerah lain di nusantara ini, seperti Sumatera, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.

Selain di Indonesia, busana yang bercirikan bukaan depan ini, juga banyak dikenakan oleh wanita di negeri rumpun Melayu, seperti Malaysia, Brunei, Singapura, Birma. Namun hanya di Indonesia kebaya memiliki banyak rupa. Bahkan tampil sesuai dengan budaya daerah asal si pemakai. Di tangan 10 desainer terkemuka asal negeri sendiri, di antaranya seperti Amy Atmanto, Musa Widyatmodjo, Djoko Sasongko, paras kebaya pun menjelma cantik. Meski begitu unsur aslinya tetap dipertahankan. Mengapa? Karena mereka tidak ingin esensi sejati kebaya pupus oleh dinamika zaman

Bagi Amy Atmanto, kebaya merupakan bentuk apresiasi cintanya pada warisan budaya leluhur bangsa. Ia berprinsip kecintaanya pada dunia tersebut tidak hanya sebatas ingin melestarikan, tetapi juga mengembangkan aset budaya nasional. “Saya senang mengeksplorasi desain busana. Terutama yang berasal dari akar budaya Indonesia, seperti kain-kain tradisional atau beragam pernik etnik,” terangnya. Selain itu, mempercantik wanita Indonesia dengan menggunakan busana yang bersumber dari akar budaya, merupakan salah satu visi dan misi Amy Atmanto. “Wanita Indonesia harus tampil cantik, layaknya Srikandi di abad modern.

Tak heran ketika pertama kali mendirikan Royal Sulam di tahun 2005, ia memutuskan untuk mendesain busana nasional asli Indonesia, yakni kebaya. Garis rancangan kebaya buatan Amy sangat khas, memadukan gaya klasik dan modern. Detil motif hiasannya bertahtakan manik-manik serta swarovski. Tak pelak, padu-padan itu menghasilkan aura kebaya yang megah, anggun, sekaligus elegan.

Tiap detilnya dikerjakan melalui proses olah rasa yang dalam. Bahkan, sebelum memutuskan untuk mendesain kebaya, Amy kerap berbincang untuk mengenal kepribadian orang tersebut. Mendengarkan, kemudian memahami perasaan dan pikiran orang lain (empati), membuatnya mampu menciptakan kebaya yang selaras dengan karakter pemakainya. Boleh dibilang, setiap kebaya rancangan Amy adalah masterpiece.

Foto dokumentasi Amy Atmanto

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP