Foto Ray - Antheia Photography
Memandangi berbagai desain busana karya Lenny Agustin, kita seperti diajak mengarungi taman imaji masa kecilnya nan indah. Dunia khayali penuh warna, yang begitu jujur, ceria, serta sarat akan muatan budaya bangsa. Di tengah tudingan sebagian masyarakat yang menganggap busana dan kain tradisional adalah budaya usang yang sulit beradaptasi dengan tren masa kini, ia justru tampil mengusung desain kebaya bernuansa kekinian. Baginya tradisi itu tidak kontras dengan zaman. Malah sebaliknya, mengikuti zaman yang tengah berlangsung atau akan datang.

Awal perjalanan karir wanita yang gemar gonta-ganti warna rambut ini di jagat mode, dimulai sejak sepuluh tahun silam. Kreativitasnya dalam berkarya, baik pada desain, cutting, detil, maupun warna dinilai sangat berbeda. Lenny mengekspresikan desain kebaya secara lebih luwes. Bahkan melebur dengan tren yang tengah marak digandrungi oleh generasi muda. Diantaranya desain kebaya berbentuk kamisol ataupun cropped jacket dengan warna-warna ceria khas anak muda. Ia pun kerap memadu-madankan kebaya dengan sesuatu yang play full, mulai dari rok pendek, rok tutu dan lain sebagainya.

Foto Adit Sastradipradja
Kendati seperti itu, Lenny tidak pernah menghilangkan apa yang menjadi ciri atau pakem dari sebuah kebaya. Seperti bagian lancip di ujung bawah kebaya, bukaan depan, bef atau kutubaru, serta memiliki kerah yang dibalik layaknya kebaya Kartini. Hal itu dilakukannya lantaran ia sangat menghargai dan ingin menjaga kesejatian dari sebuah kebaya. Serta rasa prihatin karena banyak menjumpai desainer muda yang tersesat saat merekonstruksi atau mendesain ulang kebaya. “Arti kebaya buat aku penting sekali. Kebaya adalah busana nasional dan identitas wanita Indonesia. Sudah seharusnya setiap wanita di Indonesia memiliki kebaya dan mengerti akan ciri, bentuk serta mengetahui bagaimana detil busana yang disebut kebaya itu,” terang Lenny.