Bakti Budaya Djarum Foundation kembali menunjukkan dukungannya pada kegiatan yang dilakukan Teater Koma. Sebuah lakon saduran berjudul “Opera Ikan Asin” dimainkan oleh anggota Teater Koma dan menjadi produksi yang ke-147 dari teater legendaris di Indonesia ini. Sebetulnya naskah drama berjudul asli “The Beggar`s Opera” yang ditulis John Gay dan musik J.C. Pepusch ini pernah dimainkan pada 1728 di London, selang beberapa abad kemudian Bertolt Brecht menyadurnya dan mengganti judul menjadi “Die Dreigroschenoper” atau “The Treepenny Opera” dan dipentaskan di Berlin pada 31 Agustus 1928 dengan komposisi musik oleh Kurt Weill.
Dari naskah saduran Bertolt Brecht, Nano Riantiarno menyadur ulang yang dapat disaksikan pada pementasan “Opera Ikan Asin” yang berlangsung pekan ini, 2 – 5 Maret 2017. Seperti pada umumnya lakon Eropa yang berjenis musikal, N. Riantiarno tetap mempertahankannya dengan lirik gubahannya sendiri. Namun untuk musik, Fero Aldiansya Stefanus sebagai penata musik bertugas untuk mengaransemen komposisi asli milik Kurt Weill. Meskipun bertugas mengaransemen, Fero mengakui kesulitan yang dihadapi untuk mengimbangi musik dan lirik yang panjang dimana kosakata bahasa Indonesia jauh lebih banyak dibanding bahasa Jerman. Tetapi segala kesulitan yang dihadapi terbayar sudah dengan memberikan hiburan terbaik pada penonton.

Opera Ikan Asin bercerita tentang kepahlawanan seorang bandit bernama Mekhit alias Mat Piso. Kontradiktif bukan? Pada pres konference lalu, N. Riantiarno pun menjelaskan bahwa lakon ini penuh dengan ketidakjelasan. Adegan dimulai oleh Mekhit (Rangga Riantiarno) yang menikahi Poli Picum tanpa izin ayahnya, Natasasmita Picum sang juragan pengemis se-Batavia. Berawal dari sini terjadi konflik, mengetahui putrinya menikah dengan Mekhit, Picum tidak tinggal diam dan mengancam Kartamarma (Asisten Kepala Polisi Batavia), sahabat Mekhit sang raja bandit. Bagaimana bisa seorang bandit bersahabat dengan seorang aparat? Begitulah salah satu bentuk ketidakjelasan yang juga akan dibumbui dengan sogok-menyogok yang menjadi tradisi dan dianggap wajar. Bukan berniat untuk menyindir tetapi seperti itulah lakon yang disadur dari naskah berumur ratusan tahun dan masih terjadi hingga era modern saat ini.

Pementasan Opera Ikan Asin pertama kali dimainkan pada tahun 1983 dan kedua kalinya pada 1999. Berbeda dari pementasan sebelum-sebelumnya dimana terdapat lagu yang tidak dinyanyikan, tetapi pementasan kali ketiga ini dimainkan secara full dan komplet. Opera Ikan Asin diperankan oleh pemain teater kawakan, sebut saja Budi Ros, Cornelia Agatha, Sari Madjid Prianggoro, Alex Fatahillah, Asmin Timbil, Raheli Dharmawan, Budi Suryadi dkk. Penata kostum oleh Samuel Wattimena, koreografi oleh Ratna Ully, pembimbing vokal oleh Naomi Lumban Gaol, tata rias oleh Sena Sukarya dan PAC Martha Tilaar, penata artistik dan lighting oleh Taufan S. Chandranegara dan co-sutradara Ohan Adiputra.
Jika biasanya pementasan diadakan di Taman Ismail Marzuki, untuk pementasan kali ini sekaligus merayakan hari jadi Teater Koma ke-40 tahun, venue dipindah ke Ciputra Artpreneur, Lotte Shopping Avenue. Pementasan dimulai pukul 19.30 WIB kecuali Minggu tanggal 5 Maret, pukul 13.30 WIB. Tiket yang dijual bervariasi mulai dari Rp. 150.000 – 850.000 yang dapat dibeli melalui www.teaterkoma.org, www. blibli.com dan tiket@teaterkoma.org.
Foto: Dok. Image Dynamics