Apakah pernah membayangkan bagaimana perasaan dalam hati setelah menikah dalam menyambut perasaan baru setelah resmi menjadi istri. Akan ada seseorang yang memanggil dengan sebutan istri dari si A yang awalnya menimbulkan perasaan “gamang” bagi seorang wanita yang baru menikah. Namun tahukah bukan hanya status baru yang disandang, jauh lebih penting ada tugas baru yang sebaiknya diketahui untuk menyiapkan diri.
Apabila sejauh ini lebih banyak calon pengantin yang terlalu fokus mempersiapkan berbagai pelengkap pesta pernikahan, tahukah menyiapkan diri menyambut kehidupan baru bersama suami kelak sama pentingnya. Bahkan menyangkut waktu berjangka panjang bukan sesingkat pesta pernikahan yang hanya berlangsung sehari. Maka dari itu sambil menyelam mempersiapkan pernikahan, mari bersama minum air dengan mempelajari secara singkat bagaimana membentuk karakter istri yang baik lewat tiga hal mendasar di bawah ini.
Mengurus rumah
Transisi dari masa lajang yang hanya mengurus diri sendiri tanpa harus memikirkan orang lain segera dihilangkan. Hadirnya suami mengubah pikiran dari hanya memikirkan diri sendiri kini ada suami yang lebih didahulukan kepentingannya. Hal itu pula diterapkan dalam mengurus rumah hingga menyiapkan segala keperluan sang suami. Maka dari awal bangun pagi persiapan dimulai dengan mengurus sarapan hingga makan malam, membereskan rumah agar tetap bersih dan rapi, serta menyiapkan keperluan lainnya yang dibutuhkan suami.

Mempelajari kebiasaan pasangan
Tidak hanya berlaku pada satu pihak, mengetahui dan mempelajari semua kebiasaan suami wajib dilakukan sejak hari pertama menyandang status istri. Sebab banyak pengalaman yang dialami pasangan yang terkejut mengetahui kebiasaan yang belum diketahui pada masa pacaran. Dengan mempelajari kebiasaan pasangan memudahkan untuk menyikapi kebiasaan tersebut dan meminimalisir masalah yang akan muncul.
Sikap menghormati suami
Tanpa mengenal berasal dari belahan negara barat atau timur, sikap menghormati suami menjadi kunci hubungan terus langgeng. Tanpa memandang bias gender dan tanpa bermaksud menyinggung kaum feminis, wanita pun harus menyadari suami merupakan kepala keluarga sehingga sudah sewajarnya dihargai lebih. Dengan begitu masalah dalam keluarga dapat diminimalisir.
Foto: Dok. Istimewa