Bagi seorang Djoko Sasongko, penafsirannya akan seni diwujudkan dalam bentuk kebaya. Medium yang dipilihnya lantaran gandrung akan seni dan keindahan. Bahkan bisa dibilang karena dua hal tersebut hatinya mantap memasuki dunia profesional sebagai desainer. Dan tanpa terasa lebih dari satu dekade pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur ini berkarya. Menghasilkan berbagai desain kebaya yang tak hanya nyaman saat dikenakan, namun juga sarat akan estetika.
Bakat dan telenta yang dimiliki Djoko sudah terlihat semenjak ia bergabung di Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) milik desainer ternama Susan Budihardjo. Ia adalah murid yang berprestasi. Salah satunya dinobatkan sebagai siswa terbaik mahir 1 tahun 2002, serta sederet penghargaan bergengsi lainnya. Meski begitu, penyuka bakso dan rujak cingur ini tidak pernah tinggi hati. Baginya, segala yang diraihnya di dunia fesyen juga berkat bantuan banyak orang, serta Tuhan Yang Maha Esa. Dan uniknya profesi desainer bukanlah cita-citanya semula. “Saya menjalaninya seperti air yang mengalir,” ujarnya.

Jawaban itu mungkin singkat, namun sejatinya memiliki makna yang dalam. Ada tiga filosofi air yang kerap dianalogikan dengan sifat mulia manusia: Pertama, air selalu mengalir dari atas ke bawah, menganalogikan sifat rendah hati, melayani dan berguna bagi banyak orang. Kedua, air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong. Artinya siap menolong bagi mereka yang memerlukan. Ketiga, air selalu mengalir ke muara, tak peduli seberapa jauh jaraknya pasti akan tiba di sana. Itu melambangkan visi kehidupan yang jelas, konsisten, serta totalitas.
Bila menilik hal tersebut, tak heran bila karir Djoko Sasongko bersinar seperti sekarang ini. Sebab ia menyertakan hati pada setiap karyanya. Dengan ciri trimingan bordir serta detil gradasi payet tabur kristal swarovski yang senada dengan warna bahan, menjadikan hasil rancangan kebaya Djoko Sasongko tampil anggun, simpel dan glamor. Dalam mendesain kebaya ia sangat teliti dan mempertimbangkan banyak sisi. “Saya selalu mengutamakan karakter pemakainya. Warna kulit, bentuk tubuh serta kepribadian calon pengantin adalah pondasi saya dalam proses merancang kebaya,” jelasnya.
Untuk desain kebaya, putra ketiga dari pasangan Soebeno Kartotaroeno dan Kadarmi ini mengaku terinsprasi dari kekayaan budaya Indonesia yang berlimpah. Dari sisi bisnis, Djoko menilai kebaya memiliki peluang yang bagus dan makin terbuka. Buktinya, kebaya Indonesia mulai banyak diminati oleh perempuan di mancanegara. Pertumbuhan desainer muda yang menekuni kebaya juga kian marak. Kedepannya Djoko Sasongko akan terus berkarya, mengembangkan desain kebaya tanpa melanggar pakem yang ada. Bukankah seni adalah imajinasi dalam jutaan bentuk lain, baik yang sudah ada atau belum lagi ditemukan.
baca juga : Elegant Legacy - Kebaya Djoko Sasongko
Teks Teddy Sutiady | Foto Ridha Kusumabrata, Adit Sastradipradja