message

Modern Vintage Theme for Dea & Gema Wedding at Gedung Arsip

GEMA PRATAMA DAN DEA NABILA - 09 SEPTEMBER 2018
| 1360

Pertemuan pertama Dea dan Gema bermula di kampus, kebetulan keduanya kuliah di fakultas hukum UNPAD. Dea angkatan 2009 dan Gema angkatan 2008. Seperti kebanyakan cerita romantis antara kakak angkatan pada adik angkatan yang suka curi-curi pandang, Dea dan Gema pun mengalami hal yang sama.

Pertemuan pertama Dea dan Gema bermula di kampus, dimana keduanya menjadi mahasiswa fakultas hukum UNPAD. Dea angkatan 2009 dan Gema angkatan 2008. Seperti kebanyakan cerita romantis antara kakak angkatan pada adik angkatan yang suka curi-curi pandang, Dea dan Gema pun mengalami hal yang sama. Usaha keras dilakukan Gema dengan pertama kali mengajak Dea untuk chating lewat Facebook. Sayangnya, saat itu pendekatan berjalan kurang mulus, karena Dea kembali pada mantan pacarnya dan bertahan selama 3 tahun. Setelah Dea kembali putus, Gema pun melancarkan pendekatan kembali, hingga akhirnya keduanya mulai serius menjalin hubungan. Perjalanan cinta selama 4 tahun 4 bulan mencapai puncaknya pada Januari 2016 saat Gema melamar Dea di mobil dengan backsound lagu dari Paul McCartney berjudul “This Never Happen Before “. Keduanya pun memutuskan untuk menggelar lamaran pada tanggal 27 Agustus 2017, dan dilanjutkan dengan pernikahan pada 9 September 2018 . Jarak yang cukup jauh ini akibat menunggu giliran kakak-kakak mereka yang menikah lebih dulu.

Awal persiapan, Dea dan Gema sudah jatuh cinta pada Gedung Arsip. Sayangnya saat ke sana ternyata gedung itu sudah penuh untuk 1 tahun ke depan. Tanggal yang sudah direncanakan, 8/9/2018 sudah diisi orang lain. Tetapi pengurus gedung memberi harapan pada tanggal 9/9/2018 calon pengantin yang booking masih bimbang, Dea sangat berharap 3 calon pengantin lain yang antre pun melakukan hal yang sama seperti calon pengantin pertama. Beruntung, setelah berdoa malam itu Dea mendapat kabar 3 pengantin lainnya membatalkan. Jadi tanggal 9/9/2018 yang kata orang tanggal cantik, tanpa sengaja memilih, menjadi milik Dea dan Gema.

Cerita persiapan lainnya terjadi dalam memilih warna busana akad. Dea ingin tampil berbeda dari pengantin umumnya yang selalu mengenakan busana putih untuk akad. Ia pun membalik dengan mengenakan busana cream-champagne untuk akad, dan busana putih untuk resepsi. Ditentang oleh orang tua, Dea pun mengalah dengan tetap mengenakan busana putih pada akad, dan mengenakan busana berwarna cream-champagne pada saat upacara adat.

Berasal dari keluarga Sunda, rangkaian upacara adat pun digelar mulai dari sebelum pernikahan seperti siraman yang terdiri dari upacara katineung (penyampaian isi hati kedua orang tua), sungkeman, siraman, potong dan suapan nasi tumpeng, rebutan parawanten, sawer kain, hingga di hari pernikahan yang dijalani dengan prosesi sawer, meuleum harupat, nincak endog, ngalengkahan balera, buka pintu, huap lingkung.

Konsep berbeda diaplikasikan pada resepsi dengan mengangkat unsur rustic yang banyak melibatkan dekorasi dari bahan utama kayu-kayu sesuai favorit keduanya. Penyatuan tema `Modern Vintage` berasal dari hobi Gema yang menyukai suka berbagai hal berbau `jadul`, dari mobil hingga lagu, yang lalu tertuang pada pemilihan Gedung Arsip. Sementara Dea yang mengadopsi unsur modern, menjadikan pernikahan keduanya merupakan perpaduan tradisional yang terkesan kuno dengan suasana resepsi yang lebih modern.

BACK
TO TOP