Pernahkah Anda bayangkan ekspresi Arjuna yang terkenal perkasa dan tidak terkalahkan berubah menjadi galau? Jika belum pernah, Anda patut galau karena melewatkan pementasan wayang orang dengan lakon “Arjuna Galau”. Sebab seni pertunjukkan tradisional modifikasi yang banyak menampilkan sosialita hingga artis ibukota ini telah usai dipentaskan pada tanggal 15 September 2013 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta.
WOIP (Wayang Orang Indonesia Pusaka), sebuah sanggar pimpinan Jaya Suprana yang telah melanglang buana tak hanya di pentas lokal saja, namun juga internasional. Salah satunya adalah pementasan berjudul “Banjaran Gatot Kaca” yang digelar di Sydney Opera House, Australia, yang juga ditampilkan pada salah satu acara kebudayaan di Gedung Pusat Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) Paris, Prancis tanggal 22 Oktober 2012 dengan penonton yang berasal dari 150 negara. Kini WOIP kembali hadir dengan menggandeng artis seperti Maudy Koesnaedi, Wulan Guritno, Tina Toon, Aming, Feni Rose, sosialita pecinta budaya seperti Yasmin Gita Wirjawan, Bai Papulo, Ninok Leksono, bahkan tiga orang menteri yaitu Gita Wirjawan, Mari Elka Pangestu dan KRMT Roy Suryo, para tokoh muda pecinta seni, serta penari dari Wayang orang Bharata. Keterlibatan artis dan para tokoh ini dimaksudkan untuk menarik apresiasi kaum muda agar mau mencintai seni budaya wayang orang.

Pementasan yang mendapat dukungan oleh Djarum Apresiasi Budaya ini, menceritakan bagaimana kegundahan yang tengah melanda Arjuna (Ali Marsudi). Bagaimana tidak, jika Srikandi (Ida Lala) sang putri yang terkenal sebagai pemanah ulung tengah kerepotan menghadapi pria-pria yang berebut melamar dirinya. Karena itu lah diadakan sayembara, barang siapa yang dapat mengalahkan kemampuan Srikandi dalam memanah dialah yang dapat mempersunting sang putri Srikandi. Sementara Arjuna yang diam-diam menaruh hati menjadi gusar karena ia yakin kebanyakan pria yang melamar justru mengincar tahta kerajaan. Di lain sisi, ia pun memikirkan perasaan sang istri, Sembadra jika ia mengikuti sayembara itu. Maka demi menyelamatkan tahta kerajaan, Sembadra merestui suaminya, Arjuna mengikuti sayembara itu. Dengan diwakili Larasati sekaligus murid Arjuna, keduanya berangkat menuju Istana Pancala. Adu panah antara Srikandi dan Larasati berlangsung sengit. Tetapi pada akhirnya Larasati memenangi sayembara itu, yang berarti Arjuna lah orang yang berhak mempersunting Srikandi.
Kurang lebih dua setengah jam penonton yang menyaksikan terhibur oleh pertunjukan kolosal ini, sebab cerita wayang yang disajikan bersifat humor sehingga penonton tidak akan merasa bosan. Jika wayang umumnya menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar, kali ini meskipun masih terdapat bahasa Jawa tapi penonton yang bukan berasal dari Jawa tetap dapat mengikuti alur cerita karena bahasa yang diutamakan bahasa Indonesia. Selain itu pula, terdapat kolaborasi tari dan tembang jawa yang di-mix dengan budaya asing, contohnya tarian breakdance, gangnam style dan juga musik rap.

Sambutan dari masyarakat pun cukup baik terhadap lakon yang disutradarai Kenthus Ampiranto dan koreografer, Nanang Ruswandi. Hal ini terlihat dari bangku penonton yang terisi penuh di setiap sesinya. Pertunjukkan dibagi menjadi dua sesi, pada sore pukul 16.00 WIB dan malam pukul 20.00 WIB di hari yang sama tanggal 15 September 2013. Salut dengan pertunjukannya dan dukung terus seni budaya Indonesia.
Teks: Mery Desianti
Foto: Dok. Image Dynamics