message

Ini Perbedaan Siraman Jawa-Sunda yang Wajib Kamu Tahu

 

Foto: dok. Vera Kebaya

Indonesia begitu kaya. Kaya akan keindahan alam hingga adat istiadatnya. Kekayaan tersebut melahirkan berbagai macam prosesi yang patut dilestarikan salah satunya prosesi adat menjelang pernikahan, yakni siraman.

Upacara siraman ini berasal dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Sedangkan maknanya sendiri adalah memandikan calon pengantin agar kembali bersih dan suci. Prosesi siraman sendiri tak hanya digunakan di pernikahan adat Jawa saja karena pernikahan adat Sunda juga memiliki prosesi siraman ini. Berikut fakta yang harus Anda ketahui mengenai prosesi yang bikin haru ini.

  1. Siraman Adat Jawa

Pada adat Jawa, prosesi siraman ini akan dimulai dengan sungkeman dengan orang tua calon pengantin. Saat sungkeman, calon pengantin sekaligus meminta izin untuk menikah dengan orang yang telah dia pilih sebagai pasangan hidup. Hati-hati, nuansa haru akan sangat terasa di ritual ini.

Setelah itu barulah tahap siraman di mana calon pengantin akan disiram dengan air yang diambil dari tujuh sumber dan sudah ditaburi kembang setaman. Yang bertugas menyiram harus berjumlah ganjil, dimulai dari ayah, ibu, lalu beberapa orang yang dituakan dan diakhiri dengan juru rias.

Prosesi siraman tak sampai di situ saja. Calon pegantin akan digendong sang ayah menuju kamar pengantin untuk melakukan prosesi ngerik. Di sini calon pengantin akan dibersihkan rambut-rambut halusnya oleh juru rias.

Berikut sedikit gambaran pelaksanaan upacara siramannya.

Upacara ini berlaku untuk calon pengantin pria dan wanita yang akan dilaksanakan di rumah masing-masing. Setelah menyiapkan segala perlengkapan siramannya, saatnya Anda menaburkan bunga setaman ke dalam bak yang berisi air dingin atau hangat. Selanjutnya, dua butir kelapa yang masih ada sabutnya diikat menjadi satu lalu dimasukkan ke dalam air tersebut.

Calon pengantin yang sudah mengenakan busana siraman lengkap, dijemput dan dibimbing orang tua menuju tempat siraman. Di belakang mereka ada pengiring yang membawakan baki berisi seperangkat kain yang terdiri dari sehelai kain motif grompol, sehelai kain motif nagasari, handuk dan pedupan.

Lalu, siraman akan diawali dengan doa menurut kepercayaan masing-masing diikuti dengan guyuran air siraman pertaman oleh orang tua calon pengantin dilanjut beberapa orang yang ditunjuk. Setelah badan dikira bersih, air tersebut juga digunakan untuk berkumur, membersihkan wajah, telinga, leher, kaki dan tangan masing-masing 3x. Jangan lupa diikuti juga dengan doa oleh calon pengantin.

Akhir dari acara siraman ini adalah ketika juru rias mengucapkan kalimat sudah berakhir masa remajanya sambil memecahkan kendi di depan calon pengantin yang disaksikan kedua orang tua dan kerabat lainnya.

  1. Siraman Adat Sunda

Berbeda dengan siraman adat Jawa, siraman adat Sunda ini memiliki tahap pertama dari ngengcangkeun aisan dengan ritual sang ibu akan melepaskan gendongan menuju tempat siraman ditemani sang ayah yang mendampingi dengan membawa lilin. Makna dari tahap ini adalah kedua orang tua akan segera mengakhiri tanggung jawab mereka dan akan digantikan oleh calon suami.

Tahap selanjutnya yaitu dipangkon. Di sini, calon pengantin akan dipangku oleh kedua orang tuanya lalu calon pengantin akan membasuh kaki mereka (ngaras). Lalu, calon pengantin akan disemprot dengan minyak wangi agar bisa selalu mengharumkan nama keluarga. Kemudian, calon pengantin akan melewati tujuh lembar kain yang menyiratkan permohonan untuk selalu sabar, sehat, bertaqwa, tabah, beriman dan istiqamah.

Akhirnya sampailah pada prosesi siraman. Sama seperti adat Jawa, di sini calon pengantin akan disiram dengan air yang sudah ditaburi kembang setaman.

Foto: dok. Freepik

Dengan banyaknya prosesi adat pernikahan di Indonesia, Vera Kebaya bersama pekerja seni tradisional Indonesia lainnya mewujudkan rasa peduli mereka dengan memberikan informasi pada masyarakat akan kekayaan tradisi Nusantara mengenai prosesi pernikahan adat termasuk di dalamnya prosesi jelang pernikahan siraman ini. Semua tertuang dalam kegiatan yang bertajuk Merajut Nusantara.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai pernikahan tradisional, Anda bisa klik di sini.

Tradisional, Sunda

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP