Prosesi Pernikahan Adat Minang

Foto Timur Angin

Berdasarkan tradisi turun-temurun, pernikahan urang awak melibatkan peran dari keluarga besar kedua calon mempelai. Terutama pihak wanita. Setiap rangkaian prosesinya sarat akan petatah-petitih (nasihat) kehidupan. Tak heran, meski zaman terus berganti, hal tersebut masih terus dilaksanakan hingga kini.

  • Marasek

Menikah adalah menentukan pasangan hidup untuk berbagi kasih, suka, maupun duka. Agar tidak salah pilih, tentunya perlu ada penjajakan terlebih dahulu. Dalam adat Minang, hal itu disebut maresek. Sesuai dengan adat-istiadat ranah Minang yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, penjajakan dilakukan oleh pihak keluarga wanita. Biasanya beberapa perempuan yang dituakan dalam keluarga diutus untuk mencari tahu, apakah pemuda yang dituju cocok dan berminat untuk menikahi si gadis. Prosesi seperti ini bisa berlangsung beberapa kali.

  • Maminang

Tahap selanjutnya adalah pinangan (maminang). Tahapan ini dilakukan apabila hasil dari marasek sudah positif, artinya bakal calon pasangan memberikan sinyal setuju. Disaksikan orangtua, ninik mamak dan para sesepuh kedua belah pihak, proses peresmian ikatan pertunangan pun dilaksanakan. Ikatan kini semakin kuat dan tidak dapat diputus secara sepihak. Ketika bertandang, rombongan keluarga calon mempelai wanita membawa hantaran, namun yang paling utama adalah sirih pinang. Buah tangan itu bisanya ditata dalam carano, kemudian disuguhkan untuk dicicipi keluarga pihak pria. Hal tersebut mengandung makna dan harapan. Bila tersisip kekurangan saat kunjungan tidak akan menjadi bahan gunjingan. Hal-hal manis dalam pertemuan akan melekat dan diingat selamanya.

  • Batimbang Tando (bertukar tanda)

Kemudian dilanjutkan dengan acara batimbang tando atau batuka tando (bertukar tanda). Biasanya berupa benda-benda pusaka seperti keris, kain adat, atau benda lain yang memiliki nilai sejarah bagi keluarga. Selanjutnya diakhiri dengan berembuk mengenai tata cara penjemputan calon mempelai pria.

  • Mahanta Siri

Seperti halnya calon mempelai wanita, mempelai pria melakukan tahapan memohon doa restu kepada orang tua dan sanak kadang. Hal itu disebut mahanta siri. Pada saat itu calon mempelai pria menyampaikan kabar gembira mengenai tanggal pernikahannya, sembari membawa selapah berisi daun nipah dan tembakau. Hal serupa pun dilakukan calon mempelai wanita, diwakili oleh kerabat wanita yang sudah berkeluarga dengan cara mengantar sirih lengkap. Biasanya keluarga yang didatangi akan memberikan bantuan untuk ikut memikul beban dan biaya pernikahan sesuai kemampuan.

  • Babako-Babaki

Ayah mana yang tidak ingin meliahat putra-putrinya bahagia ketika melangsungkan pernikahan. Tak heran, selain memberikan doa restu, ayah calon mempelai wanita biasanya ikut memikul biaya sesuai kemampuan. Acara ini berlangsung beberapa hari sebelum akad nikah. Mereka datang membawa berbagai macam hantaran. Perlengkapan yang disertakan berupa sirih lengkap (sebagai kepala adat), nasi kuning singgang ayam (makanan adat), barang-barang yang diperlukan calon mempelai wanita (seperangkat busana, perhiasan emas, lauk-pauk baik yang sudah dimasak maupun yang masih mentah, dan lain sebagainya). Selaras tradisi, calon mempelai wanita dijemput untuk mendapat petatah-petitih (nasihat) di rumah keluarga pihak ayah. Keesokan harinya, calon mempelai wanita diarak kembali ke rumahnya diiringi keluarga pihak ayah dengan membawa berbagai macam barang.

Foto Timur Angin

  • Malam Bainai

Dan malam hari sebelum acara akad nikah, dilaksanakan malam bainai di kediaman calon mempelai perempuan. Bainai berarti melekatkan tumbukan halus daun pacar merah atau daun inai ke setiap kuku calon pengantin. Tradisi ini melambangkan kasih sayang dan doa restu para sesepuh keluarga mempelai wanita. Perlengkapan lain yang turut digunakan pada acara tersebut, antara lain: air yang berisi keharuman tujuh macam kembang, daun inai tumbuk, payung kuning, kain jajakan kuning, kain simpai, dan kursi untuk calon mempelai.

  • Manjapuik Marapulai

Ini adalah acara adat yang paling penting dari seluruh rangkaian acara perkawinan adat Minangkabau. Calon pengantin pria dijemput guna melangsungkan akad nikah di rumah calon mempelai wanita. Disaat yang sama pemberian gelar pusaka kepada calon mempelai pria, sebagai pertanda kematangan usia juga dilaksanakan. Saat itu pihak keluarga calon pengantin wanita membawa sirih lengkap dalam cerana yang menandakan kehadiran mereka yang penuh tata karma. Selanjutnya rombongan utusan dari keluarga calon mempelai wanita menjemput calon mempelai pria. Setelah prosesi sambah-mayambah dan mengutarakan maksud kedatangan, calon pengantin pria serta rombongan diarak menuju kediaman calon mempelai wanita.

  • Penyambutan di Rumah Anak Daro

Tradisi menyambut kedatangan calon mempelai pria di rumah calon mempelai wanita (penyambutan di rumah anak daro) merupakan momen meriah dan besar. Dilatari bunyi musik tradisional yang berasal dari talempong, keluarga mempelai wanita menyambut kedatangan mempelai pria. Berikutnya, barisan dara menyambut rombongan dengan persembahan sirih lengkap. Para sesepuh wanita menaburi calon pengantin pria dengan beras kuning. Sebelum memasuki pintu rumah, kaki calon mempelai pria diperciki air sebagai lambang mensucikan, lalu berjalan menapaki kain putih menuju ke tempat berlangsungnya akad.

Tradisi Usai Akad Nikah

Usai melaksanakan akad nikah, ada lima acara adat yang lazim dilaksanakan. Mulai dari memulangkan tanda, mengumumkan gelar pengantin pria, mengadu kening, mengeruk nasi kuning dan bermain coki.

  • Mamulangkan Tando

Setelah resmi menjadi suami istri, maka tanda yang diberikan sebagai ikatan janji saat lamaran dikembalikan oleh kedua belah pihak.

  • Malewakan Gala Marapulai

Mengumumkan gelar untuk pengantin pria. Gelar ini sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan yang disandang mempelai pria. Lazimnya diumumkan langsung oleh ninik mamak kaumnya.

  • Balantuang Kaniang atau Mengadu Kening

Dibimbing oleh para sesepuh wanita, kedua mempelai didudukkan saling berhadapan. Wajah keduanya dipisahkan dengan sebuah kipas yang diturunkan secara perlahan. Setelah itu kening pengantin pun saling bersentuhan.

  • Mangaruak Nasi Kuniang

Prosesi ini mengisyaratkan hubungan kerjasama suami istri yang harus melengkapi satu sama lain. Ritual diawali dengan kedua pengantin berebut mengambil daging ayam yang tersembunyi di dalam nasi kuning.

  • Bamain Coki

Coki adalah permaian tradisional Ranah Minang. Yakni semacam permainan catur yang dilakukan oleh dua orang dengan papan permainan menyerupai halma. Permainan ini bermakna agar kedua mempelai bisa saling meluluhkan kekakuan dan egonya masing-masing agar tercipta kemesraan.

Teks Teddy Sutiady

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP