Ungkapan Hati Di Selembar Kain

Ike Bakrie

Pada ragam kain adat ia labuhkan hati dan pikiran. Mimpinya pun melangit. Ia ingin keberadaan warisan budaya itu lestari, tidak hilang tersisih zaman.

Pertemuan ini terjadi ketika ratusan pasang mata menatap kagum akan keindahan kain adat Indonesia. Di riuhnya lalu lalang orang yang memadatai perhelatan Indonesia: Global Home of Batik yang digelar pada 28 September silam di Jakarta Convention Center (JCC), Weddingku Tradisional mencoba menemui seorang wanita cantik yang turut andil menjaga kelanggengan kain-kain adat nusantara. Wanita itu adalah Ike Bakrie, yang saat itu tengah duduk memperhatikan lengak-lenggok pragawati yang tengah memperagakan busana batik di catwalk di Plenary Hall, JCC. Rupanya fashion show bertajuk Indonesia Global Home Batik itu digagas oleh Rumah Pesona Kain, sebuah perkumpulan yang mengupayakan kelestarian berbagai kain dari penjuru Indonesia. Dan Ike adalah salah satu pendiri, sekaligus Ketua Umumnya. Aneka busana batik rancangan desainer senior Ghea, begitu memukau. Motifnya pun unik. Konon, motif-motif pada kain batik itu bersumber dari Kain Gringsing Bali.

Bekerja sama dengan Rumah Pesona Kain (RPK), keduanya memang ingin mengenalkan kain tersebut pada masyarakat. “Kami ingin kain yang berasal dari Desa Tenganan, Bali ini lebih dikenal oleh banyak orang. Sebab selain indah, kain-kain tersebut sarat akan filosofis yang dalam,” ujar Ike Nirwan Bakrie. Agar proses pembuatannya lebih cepat dan mudah diterima oleh masyarakat, RPK dan Ghea memilih batik utuk mengejawantahkan motif kain grinsing. “Aslinya Kain Ikat Grinsing membutuhkan waktu lebih kurang tiga bulan untuk membuat sehelai selendang,” jelas Ike, ketika berhasil kami temui.

Tak sebatas hanya pada panggung fashion show saja keindahan kain nusantara dapat dinikmati. Lantaran pada perhelatan yang diadakan selama lima hari itu, terdapat ratusan gerai yang juga memajang kain-kain tradisional nusantara. Termasuk Rumah Pesona Kain. Di ruang pamernya Sejumlah kain-kain tradisional berumur ratusan tahun dari berbagai penjuru Indonesia, nampak tertata apik di sana. Sebut saja, kain batik, songket, gringsing, dan lain sebagainya yang menjadi koleksi Rumah Pesona Kain (RPK). “Tak hanya cantik, kain-kain tradisional Indonesia ini sangat unik. Ada teknik dan muatan filosofi yang berbeda-beda dari setiap daerah yang membuatnya,” ujar Ike Bakrie. Sayangnya, kini hal tersebut kurang dipahami oleh kebanyakan orang. Terlebih para generasi muda. Berpijak dari hal itu, wanita pemilik nama lengkap Ratna Indira Nirwan Bakrie bersama kesembilan wanita yang juga mencinta kain Indonesia, kemudian mendirikan Rumah Pesona kain pada September 2005. “Kami memiliki pandangan yang sama, bahwasannya kain-kain tradisional ini merupakan warisan budaya yang tidak boleh hilang ditelan perkembangan zaman,” terangnya.

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, selain pendiri, Ike juga mengemban tugas menjadi ketua umum di RPK. Dan itu bukan sebuah perkara yang mudah, mengingat kegiatannya di luar RPK juga sangat padat. Sebut saja, mulai dari ketua Yayasan Pendidikan Bakrie, Ketua Umum Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia. Bersamaan dengan itu, sebagai ketua umum RPK ia juga harus turut andil dalam menjaga kelestarian kain sebagai aset bangsa. Kendati seperti itu, ia tidak pernah merasa terbebani. “Saya menganggap ini sebagai amanah yang harus saya jalankan sebaik-baiknya. Dan Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih diberi kepercayaan sebagai ketua umum,” kata Ike.

Meski berpijak pada niat yang luhur, bukan berarti langkah Ike dan Rumah Pesona Kain bisa berjalan mulus. Tak jarang, mereka kerap dihadang oleh berbagai rintangan. Untungnya hal itu tak membuat Ike dan tim patah semangat. “Saya menyikapi berbagai kendala itu sebagai tantangan yang harus kita taklukan dengan hasil yang maksimal,” ujarnya sembari tersenyum. Salah satu tantangan yang kerap dijumpainya adalah kelangkaan generasi muda yang mau menekuni seni merajut kain yang kini sudah kian langka. Belum lagi material benang sebagai bahan dasar kain yang juga tidak selalu tersedia di dalam negeri. Mau tak mau, hal itu berimbas pada produksi maupun hasil akhir dari kain tradisional. “Hal tersebut membuat kami khawatir, pada suatu saat kain-kain tradisional di Indonesia bisa punah,” ujarnya lirih.

Kalaupun tantangan yang dihadapi dirasa berat, biasanya Ike selalu memompa semangatnya dengan kembali mengingat visi dari RPK. “Kami ingin membangun kesadaran masyakarat luas untuk memahami, meminati, mencintai dan melestarikan kain-kain tradisional Indonesia, serta mendorong para perajin kain tradisional Indonesia untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi pada kain-kain tradisional Indonesia agar senantiasa lestari tanpa menghilangkan karakteristik daerah asalnya,” papar Ike. Namun, Ike tak menampik kalau apa yang diupayakannya bersama Rumah Pesona Kain, seperti pembinaan internal terhadap para perajin, masih belum dapat dilaksanakan secara maksimal. “Kami akan selalu berupaya untuk merealisasikan cita-cita kami agar tak sekedar tinggi membumbung ke angkasa. Namun bisa menjadi sebuah tindakan yang nyata. Dan kami sangat bersyukur karena kami tidak sendiri. Banyak pihak yang juga menjadi mitra, guna membantu mewujudkan cita-cita tersebut,” papar Ike menegaskan.

Jatuh Cinta Pada Kain Nusantara
Berbicara mengenai kain, awal ketertarikan wanita berdarah Jawa ini bermula dari kain batik. Oleh keluarganya, ia sudah dikenalkan semanjak masih belia. Kendati seperti itu, ia sudah makna seni serta unsur keindahan yang tersimpan pada sehelai kain batik. Dan setelah menikah dengan Nirwan Bakrie yang memiliki darah Lampung, Ike kemudian dikenalkan pada kain tradisional khas Lampung yang tak kalah indahnya dari batik, yakni kain Tapis. “Buat saya, kain tersebut memiliki pesona tersendiri. Ia kaya akan warna dan motif,” pungkasnya.

Dan kian hari minat serta kecintaannya terhadap kain-kain tradisional dari belahan bumi khatulistiwa pun tumbuh subur menyemaki hatinya. Terlebih ketika ia mulai mengenal kain-kain antik yang berasal dari ratusan tahun silam. “Saya begitu terpukau, kain-kain antik itu begitu indahnya. Timbul pertanyaan dalam hati saya, kenapa sekarang kita tidak bisa membuat yang seperti ini? Padahal teknologi tenun sudah sedemikan canggih. Tapi mengapa hasilnya tidak seindah dan sehalus kain-kain antik,” ujar Ike.

Kemudian ia pun mulai mempelajari lebih jauh perihal kain dengan membaca buku dan hasil penelitian dari para staf RPK. Hingga akhirnya ia menyimpulkan, mata rantai ‘rasa’ yang hilang itu adalah sentuhan hati saat merealisasikan sehelai kain. Para penenun jaman dahulu membuat kain bukan hanya karena tuntutan motif ekonomi saja. Kebanyakan dari mereka membuat kain untuk dikenakan sebagai busana. Entah untuk diri sendiri ataupun untuk anak-anaknya.

Tak heran kalau kain-kain tersebut sarat akan sentuhan cita rasa hati layaknya sebuah karya seni. “Cita rasa seperti itulah yang masih susah dimunculkan kembali pada penenun. Kalaupun ada, sangat terbatas sekali. Dan hal itu terus kami upayakan, agar kedepannya para penenun kita dapat menyertakan dan menuangkan isi hati mereka pada kain-kain yang tengah mereka buat, agar hasilnya tak kalah dengan kain antik,” jelas Ike menutup obrolan. Ya, bila dikerjakan dengan hati, sehelai kain tak sebatas benda pembungkus tubuh ataupun tilam permukaan belaka. Lewat jalinan sulur-sulur benang yang yang ditenun rapat, ia seperti bertutur. Meneriakan buncahan pembuatnya. Susah, senang, sedih, bisa terpaparkan di sana. Dan pada akhirnya akan menghadirkan keindahan tiada tara.

Teks: Teddy Sutiady
Foto: Sujanto Huang dan Dokumentasi Pribadi

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP