Cita Rasa Abadi Hidangan Tradisi

Tak berlebihan rasanya jika mengatakan kalau menu tradisional Nusantara tak lekang dimakan waktu. Dan akan selalu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Ini tidak mengherankan, karena dalam berbagai hidangan tradisional Indonesia tersemat sensasi rasa gurih yang tidak dijumpai pada masakan Eropa atau Benua Asia lainnya. Di Eropa (Barat), umumnya hanya mengenal cita rasa asin, manis, pahit, dan asam. Kalaupun ada yang sedikit berbeda, itu merupakan cita rasa asin lembut yang dikenal dengan savory. Rasanya tidak setajam garam dapur, misalnya rasa asin pada keju, ham, serta salami.

Sedangkan di benua Asia, seperti Jepang, menyebut istilah gurih dengan umami: cita rasa lezat yang didapat dari kecap asin atau ekstrak rumput laut. Sensasi gurih pada masakan Indonesia tidak sesederhana itu. Sangat kompleks. Dalam satu menu olahan masakan saja terdapat ratusan ribu senyawa yang bersinergi dan begitu memanjakan lidah saat disantap. Olahannya juga kaya akan kandungan yang bermanfaat bagi tubuh, mulai dari protein hingga vitamin alami yang yang berasal dari rempah-rempah. Tak mengherankan jika dalam sebuah resepsi pernikahan, hidangan tradisional tetap menjadi incaran para tamu yang bertandang. Terlebih jika menu hidangannya mengusung originalitas rasa tradisional Indonesia.

Berbicara mengenai menu tradisional yang mengedepankan originalitas rasa, wedding packages menu di Hotel Century Park, Jakarta, boleh dibilang juaranya. Betapa tidak, hotel yang berdiri sejak 23 tahun silam ini memang terkenal akan resep tradisional khas tempo dulu. “Hotel Century Park memang sangat populer sebagai destinasi untuk mereka yang ingin menikmati masakan Indonesia. Kami sangat menjaga predikat itu,” ujar Hernowo Goenanto, Executive Chef Hotel Century Park, Jakarta. Ya, menyajikan menu tradisional Indonesia yang seoriginal mungkin nampaknya merupakan salah satu keunggulan dari hotel yang menempati lokasi di kawasan bergengsi ibu kota itu. Dan beberapa waktu yang lalu Weddingku Tradisional berkesempatan untuk mencicipi legenda cita rasa dari resep tradisi Indonesia.


Menu pertama yang kami coba adalah Nasi Panglima. Menurut sang Chef, menu ini layaknya sebuah permata yang terpendam. Lantaran sulit sekali dijumpai. Komposisinya terdiri dari nasi berwarna hijau lembut, urap sayuran, sambal ati ampela, ayam bakar suir, kering kentang dan tempe, serta perkedel. Secara keseluruhan penampilan maupun kompisi hidangan tersebut sangat memikat. Diperhatikan sekilas, menu ini tentu kaya akan rasa; asin, manis, pedas, dan crispy. Penasaran kami pun mencicipinya.

Dimulai dari nasi, ada sensasi rasa gurih yang tipis namun terasa begitu pas di lidah. Aromanya pun wangi, khas sekali. Rupanya baik warna maupun aromanya berasal dari daun suji. Selanjutnya urap sayuran yang sangat njawani. Lagi-lagi kami dikejutkan akan sensasi originalitas rasa tradisional yang perlahan mulai sulit dijumpai. Ya, sayurannya menggunakan dedaunan yang terbilang langka, yakni daun kenikir dan kecipir. Tak sabar, pada suapan berikutnya, kami memadukan berbagai masakan. Dan rasanya lezat luar biasa. Berbagai kompisisi olahan masakan seperti melebur dan saling melengkapi satu sama lain. Dan boleh jadi, mungkin hanya di hotel ini yang menyajikan nasi yang ditanak dengan daun suji.

Nasi goreng buntut adalah hidangan selanjutnya. Konon menu tersebut juga merupakan salah satu ikon yang melegenda. “Kalau di wedding ini jadi item yang ‘live’. Sebab dimasak dengan teppanyaki style, kemudian dihidangkan langsung ke hadapan para tamu jelas Hernowo. Nasi goreng ini menyuguhkan perpaduan rasa dari berbagai bumbu, di antaranya seperti bawang merah, bawang putih, serta jinten, dengan aroma minyak samin yang menggoda. Dan hidangan pendampingnya itu lho, yakni buntut sapi, tekstur dagingnya empuk sekali. Bumbunya juga sangat menyesap. Pantas saja, sebelum ditumis sebagai pendamping nasi goreng, daging buntut sapi memang sudah diolah dan diperuntukan untuk sup buntut. Tak heran kalau rasanya lezat. Dan kabarnya menu tersebut digemari oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Penjelajahan rasa selanjutnya adalah selat solo. Sajian terdiri daging lidah sapi, buncis, wortel, telur rebus & kentang goreng. Baik secara presentasi sajian, Selat Solo ini terlihat begitu menarik. Warna daging yang coklat berpadu apik dengan semarak warna hijau, oranye yang segar dari buncis maupun wortel. Sayur-mayurnya terasa garing dan manis. Daging lidah sapinya empuk dan tebal. Yang berbeda dari selat solo ini, sausnya tidak encer seperti kuah semur, melainkan kental. Rasanya segar, karena memang saus tersebut berbahan dasar buah tomat.

Usai icip-icip selat solo, kami pindah pada menu berikutnya. Kali ini berasal dari Jawa Timur, yakni tahu campur. Menu hidangan berkuah ini terdiri dari irisan daging sapi, tahu, mie kuning, tauge, selada, dan perkedel singkong atau yang dikenal dengan lentho. Yang bikin spesial dari menu tersebut terletak pada lentho dan kuah kaldunya yang diberi petis. Sensasi rasanya luar bisa; manis berpadu dengan semburat gurih. Selain menu tradisional, Hotel Century Park juga memiliki aneka penganan kecil tempo dulu seperti jajan pasar. Sebut saja cente manis, bika ambon, kue pepe, kue jongkong, dan lain sebagainya.

Foto Sujanto Huang


LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP