Falling in Love (again) in Melbourne Part 1

Kami datang ke sana untuk melihat-lihat dan mencari vendor-vendor untuk pesta pernikahan kami. Siapa sangka keberuntungan menaungi kami dan mengantar kami menuju kota cantik bernama Melbourne. Oh, indahnya jatuh cinta lagi...

Begitu banyak vendor yang menawarkan bermacam-macam paket, yang membuat kami sulit mengambil keputusan. Tapi setelah berkeliling memilih vendor-vendor yang cocok selama tiga hari berturut-turut, akhirnya kami pun dapat menemukan vendor yang cocok di hati dan, ini yang paling penting, cocok pula di kantong. Pada hari ketiga, kami mengikuti undian Dream It Win It. Awalnya, kami bingung memilih antara Jepang atau Melbourne. Akhirnya Melbourne yang dipilih karena Dony pernah berjanji suatu hari akan mengajak Yenni ke Melbourne.

Mimpi Jadi Nyata
Pada hari ketiga tibalah saat yang di tunggu-tunggu yaitu acara pengumuman pemenang undian. Karena acara pengundian pemenang itu malam sekali mulainya Dony sempat ingin pulang. Tapi Yenni tetap semangat menunggu acara dimulai. Akhirnya, setelah menunggu dengan hati berdebar-debar, tiba-tiba terdengar nama Dony dipanggil. Kami meloncat kegirangan dan Dony langsung berlari ke panggung untuk menerima hadiah dari Cappio Photography, yang diberikan oleh Hendrie. Pada saat berada di atas panggung dan hendak diberi bunga oleh Hendrie, Master Ceremony alias sang pemandu acara bertanya, “Mana calon istrinya? Masak bunganya diberikan ke kamu.” Lalu Dony memanggil Yenni di antara kerumunan banyak orang untuk naik ke panggung dan menerima bunga dari Hendrie. Kami difoto oleh panita penyelenggara pameran. Setelah acara penyerahan hadiah selesai, kami segera mencari booth Cappio Photography dan bertemu dengan Erwin untuk mendapatkan keterangan mengenai detail hadiah yang kami dapatkan.
Pada bulan Oktober kami bertemu kembali dengan Erwin dan Hendrie untuk membahas mengenai lokasi, kostum, dan tema dari photo shooting pada saat nanti di Melbourne. Banyak lokasi yang menarik di Melbourne dan kami memilih enam lokasi yang paling bagus yaitu Carlton Garden, Parliament House, St. Patrick Cathedral, Kilda Beach, Yara River, dan Flinders Area. Erwin membantu kami mengurus visa, tiket, dan akomodasi untuk perjalanan kami ke Melbourne.

Hari Itu Pun Tiba
Setelah bertemu, ngobrol, dan bertukar pikiran, kami mulai berburu kostum yang sesuai dengan masing-masing lokasi. Ternyata mencari kostum tidak semudah yang kami pikirkan. Waktu kami terbatas karena hanya pada hari Sabtu dan Minggu kami punya waktu untuk mencari. Selain mencari kostum, masih banyak hal lain yang harus kami persiapkan untuk pesta pernikahan kami. Tapi Hendrie banyak memberi saran dan masukan, membuat segala beban menjadi lebih ringan. Thanks, Hendrie.
Kami pergi ke Melbourne pada tanggal 5 November 2012 dengan pesawat Malaysia Airlines, pukul 05.00 pagi. Transit di Kuala Lumpur lalu melanjutkan penerbangan ke Melbourne. Perjalanan dari Jakarta ke Melboourne kami tempuh dalam waktu kurang lebih 11 jam. Kami tiba di Melbourne pukul 09.10 malam waktu setempat. Perjalanan jauh itu membuat kami lelah. Imigrasi Melbourne sangat ramai saat itu. Antrian panjang dan melingkar seperti ular menanti kami di ruang imigrasi. Setelah keluar dari ruang imigrasi, kami naik taksi menuju Victoria Hotel. Setibanya di sana kami disambut oleh Hendrie. Kemudian kami keluar untuk mencari makan malam. Karena sudah malam dan udara di sana sangat dingin, kami tidak tahu lagi mau kemana untuk mencari makan malam. Akhirnya kami melihat ada 7 Eleven dan kesanalah kaki kami yang lelah ini melangkah. Lalu kami kembali ke hotel dan beristirahat setelah perjalanan yang panjang.

*bersambung

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP