Prosesi Tande Putus, Bukan Berarti Hubungan Cinta Pun Putus

Tande putus. Sepintas lalu terdengar seperti ungkapan yang menyatakan akhir dari sebuah hubungan. Tetapi jangan buru-buru dulu mengartikan dua kata itu sebagai kalimat perpisahan. Tande putus di sini merupakan pengikat yang menerangkan bahwa mempelai wanita (none calon mantu) sudah ada yang punya. Hal tersebut merupakan salah satu rangkaian prosesi yang ada dalam pernikahan adat Betawi. Ritual yang dilakukan usai acara ngelamar ini juga menjadi salah satu penentu berlanjut atau tidaknya hubungan hingga ke pelaminan. Sebab jika kesepakatan antara kedua belah pihak keluarga tidak mencapai titik temu, ada kemungkinan lamaran bisa dibatalkan. Terlebih jika calon mempelai pria tidak mampu mengalahkan pemuda saingannya yang juga menginginkan gadis yang sama.

Jika kesepakatan tande putus telah tercapai oleh kedua belah keluarga, maka dilanjutkan dengan beberapa pokok pembicaraan, di antaranya:
1. Membicarakan besar biaya untuk keperluan pesta. Apabila dalam sistem patrilineal beban pernikahan diserahkan kepada pihak pria, adat Betawi pun demikian meski budaya Betawi tidak menganut sistem tersebut. Namun seiring waktu kini biaya pernikahan tidak hanya ditanggung sendiri oleh mempelai pria, pihak wanita pun setidaknya sedikit membantu.
2. Lamanya pesta pernikahan pun menjadi bahan pembicaraan, sebab dahulu pesta pernikahan dapat berlangsung hingga berhari-hari.
3. Berapa perangkat pakaian upacara pernikahan yang akan dipakai mempelai perempuan turut dibicarakan terkait busana pernikahan adat Betawi mempunyai banyak variasi mulai dari busana rias besar tradisional, busana rias bakal, busana rias besar modifikasi, hingga busana rias bakal (untuk acara akad nikah). Bila pesta pernikahan dilakukan berhari-hari kemungkinan tiap harinya busana yang dikenakan berbeda-beda.
4. Siapa dan berapa banyak orang yang diundang, turut menjadi pokok pembicaraan. Utamakan mencatat nama saudara baik dari pihak wanita maupun pria, setelah itu barulah mendaftar nama-nama sahabat serta teman.
5. Mahar atau dalam bahasa Betawi disebut cingkrem dirembukkan hingga tercipta kesepakatan.
6. Kekudang yang diminta. Kekudang berupa makanan yang menjadi kesukaan mempelai wanita, seperti kue cincin, kue cucur, gemblong atau kue rangi yang merupakan makanan khas Betawi.
7. Pelangke atau pelangkah jika ada abang atau mpok yang belum menikah.

Sebagai pengikat hubungan, tande putus sering disamakan dengan pertunangan. Bedanya, jika pertunangan umumnya diikat dengan cincin emas, tande putus yang dimaksud berupa cincin belah rotan, uang pesalin sekedarnya, serta aneka rupa kue.

Teks: Mery Desianti
Foto: Robby Suharlim


LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP

Klik "Ya" Untuk Mendapatkan Update Promo Terbaru Dari Weddingku!