Menelusuri Jejak Sejarah Turki Melalui Hagia Sophia & Blue Mosque

Foto : Alexander Thian

Ada beberapa tempat yang masuk daftar wajib kunjung saat mengunjungi Turki, Hagia Sophia dan Blue Mosque masuk pada peringkat atas. Keindahan arsitektur dan jejak sejarah yang tertanam pada dua bangunan itu mampu memikat setiap turis lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi, menelusuri dan mengagumi setiap sudut bangunan.

Foto : Alexander Thian

Hagia Sophia

Ada beberapa tempat yang masuk daftar wajib kunjung saat mengunjungi Turki, dan Hagia Sophia masuk pada peringkat atas. Seperti dikatakan beberapa orang yang pernah mengunjungi negara yang begitu kaya akan sejarah dan kebudayaan ini, tak lengkap rasanya ke Turki bila belum mengunjungi Hagia Sophia. Hagia Sophia atau dalam bahasa Turki disebut Aya Sofya mengandung arti kebijaksanaan suci. Bangunan yang merupakan landmark kota Istanbul ini memiliki sejarah yang begitu panjang dan penting untuk dipelajari bagi kaum Muslim juga Kristiani.

Foto : Setia Bekti

Didirikan pada tahun 537 M pada zaman Kekaisaran Konstantinopel, Hagia Sophia menjadi Gereja Katedral terbesar di dunia hingga berdirinya Katedral Sevilla di Spanyol pada tahun 1520. sempat berganti-ganti dari Katedral Gereja Kristen menjadi Katedral Ortodoks Yunani, lalu Katedral Katolik Roma hingga akhirnya pada tahun 1453 Konstantinopel ditaklukan oleh Turki Utsmani di bawah kepemimpinan Sultan Mehmed II, Hagia Sophia pun beralih fungsi menjadi masjid. Berbagai lambang Kristen seperti lonceng, gambar mozaik yang menggambarkan Yesus Kristus juga Bunda Maria, dihilangkan atau ditutup, berbagai atribut keislaman seperti mihrab, mimbar dan menara ditambahkan. Pada tahun 1931 Hagia Sophia ditutup untuk umum dan dibuka kembali sebagai museum pada tahun 1935. Dan pada tahun 2015, Hagia Sophia menjadi tempat yang paling menarik bagi wisatawan, berdasarkan data dari Kementerian Budaya dan Pariwisata Turki.

Foto : Setia Bekti

Terkenal akan kubah besar dengan lebar 33 meter dan tinggi 56 meter, Hagia Sophia dipandang sebagai lambang arsitektur Bizantium dan mengubah sejarah arsitektur. Kekaguman pun langsung menyergap sesaat kami memasuki museum melewati Imperial Door. Sebuah ruangan dengan ratusan mozaik dan karya seni yang begitu indah menghiasi bangunan dengan arsitektur yang begitu megah. Kubah megah dengan ornamen keagamaan indah, lukisan Yesus Kristus diantara kaligrafi Allah dan Muhammad, semua keindahan yang mencerminkan kejayaan dua agama yang pernah dipresentasikan di dalam bangunan indah ini membangkitkan kekaguman yang sulit untuk dilukiskan. Angan pun terbawa terbang melayang ke ribuan tahun lampau ke masa kejayaan Konstantinopel, ketika Katedral ini berhiaskan emas dan bertatahkan permata di dindingnya. Sebuah keindahan yang mampu memukau siapapun yang berada didalamnya.

Foto : Setia Bekti

Blue Mosque

Dari Hagia Sophia kami beralih ke Blue Mosque, landmark Turki lainnya, yang berada tepat di depan Hagia Sophia. Masjid ini dibangun antara tahun 1609-1616 atas perintah Sultah Ahmed I, dan kemudian dinamakan sesuai namanya Sultan Ahmed Mosque. Namun interior masjid yang awalnya didominasi warna biru membuatnya lebih terkenal dengan nama Masjid Biru atau Blue Mosque.

Foto : Alexander Thian

Tak nampak sedikitpun warna biru saat kita melihat mesjid ini dari luar, saat berada didalamnya barulah terlihat 20.000 keping keramik biru dengan motif daun, tulip, mawar, anggur, bunga delima dan motif geometris menghiasi dinding. Sesungguhnya saat ini interior masjid tak lagi terlalu didominasi warna biru, namun nama Blue Mosque telah terlanjur menempel pada mesjid cantik yang memiliki 6 menara dengan kubah berdiameter 23,5 meter dan tinggi 43 meter ini.

Foto : Alexander Thian

Basilica Cistern

Anda pernah menonton film Inferno? Film yang dibintangi Tom Hanks ini menampilkan Basilica Cistern atau Yerebatan Sarayi (Istana Tengelam) pada salah satu scene-nya dan meninggalkan kesan mendalam bagi penontonnya. Dan beruntung kami berkesempatan mengunjungi tempat ini. Dengan membayar tiket 20 Turkish Lira kami dapat masuk ke dalam tempat penampungan air bersih yang dibangun oleh Kaisar Justinian I, penguasa Kekaisaran Byzantium. Istanbul atau kala itu bernama kota Constantinople memiliki masalah dalam penyediaan air bersih. Karenanya, kaisar-kaisar Byzantium banyak membangun aquaduct (saluran air) dan cistern (penampungan air) di bawah kota, salah satunya adalah Basilica Cistern. Dibangun pada abad ke-6, penampungan air seluas 9800 meter persegi ini disokong oleh 338 tiang yang terbuat dari marmer.

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP